CINTA YANG TERUJI


“Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. “ (Amsal 31:12)

Lima belas tahun sudah kami membangun mahligai rumah tangga, suka duka kami lalui bersama. Setiap saat ada hal-hal baru yang Tuhan ajarkan untuk menolong kami mengandalkan-Nya. Berbagai dinamika kehidupan menambah indahnya ikatan cinta kasih kami yang terus bertumbuh. Kadang ada kerikil-kerikil tajam menghujam namun Allah selalu menopang dan makin mengokohkan jalinan cinta kami.

Dalam Amsal ini kita diingatkan perlunya membangun:
Kehidupan rohani yang bertumbuh (ayat 10-12). “…Ia lebih berharga dari pada permata.” Isteri berharga dihadapan Tuhan demikian juga sebaliknya. Hanya ada satu cara agar isteri dan suami menjadi berharga, yaitu masing-masing harus memiliki persekutuan pribadi dengan Tuhan. Pertumbuhan rohani menolongnya menikmati persekutuan yang intim dengan Tuhan maupun dengan pasangannya.

Komitmen (ayat 11). “Hati suaminya percaya kepadanya…” Pernikahan adalah komitmen, salah satunya adalah komitmen untuk saling mempercayai pasangan hidup yang diberikan Tuhan. Perasaan kita kadang labil tetapi komitmen harus bertumbuh. Mungkin tidak seromantis di awal pernikahan, namun komitmen untuk mempertahankan cinta dalam pernikahan kudus harus dibangun terus-menerus.

Komunikasi yang sehat (ayat 12). “Ia berbuat baik kepada suaminya,…” Komunikasi yang harmonis merupakan cara berbuat baik pada pasangan kita.  Komunikasi yang sempit berakibat fatal. Berbagai kesalahpahaman harus diselesaikan dengan cara Tuhan secara tuntas. Komunikasi yang baik dapat menyuburkan cinta, menguatkan asmara, menepis keraguan, menghancurkan kecurigaan, dan memperkokoh bangunan rumah tangga. 

Rumah tangga sangat berharga dimata Tuhan. Ia akan senantiasa memberkati rumah tangga kita asalkan kita selalu bergantung pada-Nya. 

Mari kita menjaga keutuhan rumah tangga dengan memprioritaskan Tuhan dalam segala segala aspek kehidupan. (today_manna)