Rasul Paulus dalam suratnya mengakui bahwa kemah tubuhnya akan dibongkar. Karena itu ia berusaha berkenan kepada-Nya (2Kor. 5:1–10). Kalau manusia sekaliber Paulus memiliki cara berpikir demikian dan di balik pernyataannya terdapat perasaan krisis untuk berkenan kepada-Nya, apalagi kita. Mestinya kita juga memiliki cara berpikir dan perasaan krisis seperti itu, yang di dunia hari ini memang tidak dipedulikan oleh kebanyakan orang. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai sikap berjaga-jaga (Mat. 24:42–44).
Berjaga-berjaga adalah sikap memeriksa diri seolah-olah akan segera memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan. Memang selain Tuhan akan segera datang, kematian pun bisa menjemput kita setiap saat. Orang yang berjaga-jaga akan berusaha hidup kudus, tak bercacat, tak bercela di hadapan-Nya. Orang seperti ini tidak akan bisa menyembuntikan dosa. Berjaga-jaga juga berarti tindakan melayani Tuhan, seolah-olah akan segera memberi pertanggungjawaban atas tugas yang harus kita selesaikan selama hidup dalam dunia ini (Mat. 24:45–51). Oleh sebab itu kalau kita belum menemukan tugas kita dari Tuhan, kita harus merasa cemas dan berusaha agar segera menemukannya. Bagaimana kita bisa mati dengan tersenyum, kalau belum menyelesaikan tugas yang dipercayakan Tuhan kepada masing-masing kita?
Berjaga-jaga adalah sikap yang selalu siap memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan setiap saat.