Sadarkah Anda, betapa besar kasih Allah terhadap hidup Anda?

RENUNGAN KHUSUS “JUMAT AGUNG”
KEBENARAN TENTANG SALIB

Anda dan saya bukanlah orang Kristen jika tidak mendasarkan iman kita pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Apa yang akan kita alami ketika menghayati darah yang tercurah di kayu salib? Apakah yang akan kita temukan ketika memasuki ruang maha kudus Allah untuk menikmati pelukan kasih Bapa yang indah? Kita menemukan Bapa Sorgawi secara pribadi, karena memasuki ruang hati Allah yang paling dalam. Di sana, kita mereguk isi hati Bapa dan ikut merasakan apa yang menjadi denyut hati-Nya. Saat itu, kita akan menemukan suatu alasan mengapa Yesus rela meninggalkan komunitas sorgawi yang indah untuk turun ke bumi yang kacau, cemar, penuh dosa, kebencian dan segala yang jahat. Hanya di dalam hati Bapa saja kita akan  menemukan alasan yang  tepat mengapa Bapa membiarkan sorga terasa hampa kerena ditinggalkan Anak-Nya yang tunggal, yang sangat dikasihi-Nya.

Para tokoh rohani sepanjang sejarah kekristenan memiliki kesaksian yang menakjubkan tatkala mereka merenungkan dan menelusuri jalan penderitaan Yesus di sepanjang jalan kesengsaraan-Nya. Mereka akhirnya mengerti bahwa Yesus telah membayar harga yang sangat mahal, agar kita bisa masuk ke dalam hadirat Allah. Ia mengalami penderitaan yang luar biasa, baik secara fisik maupun mental. Aturan yang berlaku pada saat Yesus didera adalah 39 kali cambukan setiap kali dicambuk. Cambuk yang digunakan untuk mendera Yesus adalah cambuk yang ujung-ujungnya disangkutkan bola besi. Sedangkan sepanjang tali cambuk itu, dijalin tulang-tulang domba yang tajam, agar ketika dicambuk dengan kuat dan bertubi-tubi, maka tulang-tulang domba dan bola besi akan mencabik-cabik kulit dan daging Yesus. Itulah sebabnya, di sekujur punggung Yesus tampak rusak dan tulang-tulang-Nya nyaris terlihat. Cambuk yang hina itu berubah warna menjadi merah karena berlumuran Darah Maha Suci. Kita dapat membayangkannya dengan jelas di depan mata kita.

Seandainya saja Yesus meminta kepada Bapa-Nya untuk mengirimkan seorang malaikat untuk melepaskan Dia dari penderitaan itu, maka Bapa di sorga bisa melepaskan Dia. Tetapi pada malam itu, Yesus melihat penglihatan dalam padangan Bapa, bahwa dunia membutuhkan penebusan. Yesus menyadari bukan hanya darah-Nya yang dicurahkan, tetapi Ia harus menyerahkan segala-galanya sampai mati. Sesudah malam penyiksaan itu, Yesus diturunkan ke lubang tahanan di bawah tanah.  Yesus sendirian di tempat yang gelap dan pengap itu, bahkan Ia tidak dapat berbaring ke dinding sumur itu, karena dinding yang dingin itu membuat punggung-Nya terasa perih. Sumur itu penuh dengan kotoran para tahanan yang terdahulu dan kemungkinan ada kecoa dan tikus. Pada saat itu, Ia tetap mendoakan kita sepanjang malam. Pada keesokan harinya dalam kondisi tubuh yang sudah lemah,  Yesus dibawa keluar untuk dihadapkan kepada Pontius Pilatus untuk diadili. Beberapa tangkai ranting-ranting duri yang runcing dan tajam, seukuran jari kelingking manusia dibuat menjadi mahkota, lalu ditancapkan di kepala Yesus. Dalam sekejap mata, wajah Yesus berubah menjadi bersimbah darah, akibat tusukan duri-duri tajam. Janggut-Nya mengeras karena darah membeku, sementara mata-Nya tenggelam kerena   pembengkakan yang diakibatkan oleh pukulan tentara romawi yang bertubi-tubi.

Kita tidak habis berpikir, bagaimana Yesus bisa bertahan dengan penderitaan tubuh yang dialami-Nya. Tetapi, Alkitab menerangkan dengan detail bahwa Yesus masih bertahan dengan penderitaan-Nya demi menggenapi rencana Allah. Luka-luka yang ada di bagian punggung Yesus sejak malam sebelumnya sudah mengering, tiba-tiba dirobek kembali oleh balok seberat lima puluh kilogram yang ditimpakan di atas bahu-Nya. Darah Maha Suci dari kulit-Nya segera mengalir   menyelimuti balok kayu yang kasar.  Di jalan via dolorosa yang sempit itu, ribuan orang mengejek Dia. Berkali-kali Ia terjatuh sampai bebatuan yang ada di jalan merobek-robek lutut-Nya. Tulang pipi-Nya retak ketika wajah-Nya menghantam bumi saat Ia terjerembab. Tetapi murid-muridNya tidak bisa berbuat apa-apa saat Yesus ditendang, dipukul dan diludahi di sepanjang jalan itu. Tubuh-Nya terkoyak-koyak sampai habis! Jika semua yang terjadi ini hanyalah sebuah drama, maka Yesus tidak perlu menyelesaikannya sampai akhir.

Ketika pasukan yang membawa Yesus tiba di atas bukit yang bernama Golgota, maka mereka memakukan tangan dan kaki Yesus. Dengan segera darah yang segar menyembur keluar saat paku sepanjang dua puluh sentimeter menembus daging-Nya. Para prajurit itu menggantung Yesus di atas kayu salib. Yesus harus menahan seluruh berat tubuh-Nya hanya dengan tiga buah paku. Selama enam jam tergantung, semua bagian tubuh Yesus mengalami kesakitan yang luar biasa. Dada Yesus mulai terasa sesak dan paru-paru-Nya mulai terisi darah. Setiap kali Yesus akan menarik napas, Ia harus merengangkan badan-Nya; sementara seluruh berat badan-Nya akan tertumpu pada kedua tangan dan kaki-Nya yang terpaku. Untuk sekali menarik napas, Yesus harus mengalami kesakitan yang luar biasa. Keringat bercampur darah menetes membasahi mata-Nya. Pandangan-Nya mulai kabur dan tidak bisa melihat dengan jelas. Dalam penderitaan-Nya yang sehebat itu, Ia mencari Bapa-Nya untuk mengutarakan pengampunan-Nya, “Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Seluruh tubuh-Nya hancur dan tidak ada satu bagian pun dari diri-Nya yang tersisa untuk dipertahankan. Setiap irisan yang merobek kulit dan daging-Nya mendera dan memeras-Nya.   Darah mengalir bak jemuran yang basah membuat tanah hina di bawah salib memerah kental. Tanah kotor yang tak pernah mengira ini akan mendapat anugerah besar untuk tersiram kasih abadi dari Anak Allah yang mencari kekasih-Nya. Setiap tetes cinta merah yang masih ada tidak dipertahankan-Nya, demi menebus kekasih-Nya.

Seperti biasanya, Ia selalu menengadah ke langit untuk menemui Bapa-Nya dengan mencari wajah-Nya. Di sanalah Ia berlabuh dan mendapatkan kekuatan. Bapa-Nya adalah sumber awal dan akhir dari semua pekerjaan-Nya. Sering kali dalam pergumulan-Nya, Ia ditaburi dengan untaian mesra dengan Bapa. Namun, siang itu tak seperti biasanya! Ia berusaha menengadah ke atas dan dari sudut mata-Nya, Ia dapat melihat ke langit lepas, Bapa-Nya tidak tampak di sana. Langit telah kelam karena matahari disembunyikan oleh awan pekat. Pekatnya dosa anak-anak bumi telah menutup jendela sorga. Bapa telah memalingkan wajah-Nya. Pada saat itulah Yesus berseru, “Eli, Eli lamasabakhtani?” Yesus berseru dalam bahasa yang digunakan-Nya ketika Ia masih kanak-kanak. Ia berseru dalam bahasa ‘mother tongue’ (bahasa ibu) atau bahasa kampung halaman-Nya, bahasa Aram. Menurut penelitian para ahli, jika seseorang mengalami kesakitan yang luar biasa, maka ia akan mengingau dalam bahasa daerahnya, dialek nonformal yang dipakai pada masa kecilnya.

Itulah puncak dari penghukuman yang Ia terima karena dosa kita. Duri, cambuk, dan paku tak cukup melumatkan-Nya. Karena dosa tidak cuma membawa duri ke dalam dunia, tetapi  telah  membawa keterpisahan dengan Bapa. Hal itulah yang Ia tebus pada bagian akhir dari tragedy   Golgota sebagai tebusan tragedi Eden, supaya kita tidak perlu lagi terpisah dan tidak akan pernah lagi terpisah dari Bapa.
 
Terlalu bodoh jika kita berpikir neraka dan sorga itu tidak ada! Kalau memang neraka itu tidak ada, maka Yesus tidak perlu melakukan semua itu! Yesus menjalani penderitaan itu, karena menyadari bahwa seluruh perbuatan baik manusia tidak cukup untuk membawa manusia ke sorga. Manusia membutuhkan penebusan Yesus agar tidak mengalami maut di neraka.

Jika Yesus rela menderita hanya karena ingin disembah sebagai Tuhan, maka Ia tidak perlu melakukan semua itu. Dia hanya cukup untuk terbang dengan suara-Nya yang spektakuler, maka semua orang akan menyembah Dia sebagai Tuhan. Jika sekadar ingin menjadi Tuhan, maka sangatlah mudah bagi Yesus untuk menuhankan diri-Nya, karena memang Dia adalah Tuhan yang memiliki kuasa untuk melakukannya. Masakan kayu kasar yang dipahat saja dengan mudah dapat dijadikan ‘tuhan’ dan disembah oleh sebagian orang. Seekor sapi yang hidup di India saja bisa menjadi ‘tuhan’ dan disembah oleh banyak orang. Di seluruh pelosok negeri ini, terdapat banyak pohon-pohon tertentu yang disembah sebagai ‘tuhan’. Jika hanya sekadar mencari penghormatan agar disembah, maka Yesus   tidak perlu dipakukan di kayu salib di bukit Golgota!

Mengapa Yesus mau menjalani penderitaan seperti itu, jika ada cara lain bagi seseorang untuk masuk sorga? Seandainya ada cara lain, maka orang pertama yang akan mengusulkan cara tersebut adalah Yesus, karena Dialah yang menanggung salib itu. Jika dosa bisa diselesaikan dengan cara lain, sudah tentu Yesus tidak perlu tergantung di kayu salib! Jika ada cara lain untuk masuk hadirat Allah tanpa harus mencurahkan darah dan menyerahkan nyawa di kayu salib, maka Yesus adalah orang     pertama yang akan mencari alternatif tersebut. Namun, karena tidak ada cara lain selain salib dan tidak ada pribadi lain yang sanggup memenuhi syarat untuk membayar harganya agar manusia bisa berhubungan kembali dengan Allah, maka Yesus harus membayar harganya bagi kita. Yesus          melakukan semua itu, agar kita bisa masuk ke dalam hadirat Allah dan memiliki persekutuan yang indah dengan Bapa yang hidup!
Sadarkah Anda, betapa besar kasih Allah terhadap hidup Anda?