Memulai Sesuatu Yang Baru Bersama Allah


Shalom !
Saya mengucapkan 'Selamat memasuki Tahun Baru 2020,' kepada seluruh jemaat. Saya percaya, memasuki tahun yang baru, banyak di antara kita yang menaruh pengharapan akan sesuatu yang baru kepada Tuhan.
Bagaimana caranya agar pengaharapan tersebut kita alami? Kita harus berkomitmen memulai hari yang baru kita dengan mendahulukan Allah dan FirmanNya. Karena Allah yang kita sembah adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Akhir dan Yang   Mahakuasa. Janganlah kita memulai segala sesuatu dengan  kekuatan kita, tapi dengan kekuatan Allah. Sebab dikatakan, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: 'Jadilah terang.' Lalu terang itu jadi,” (Kej. 1:1-3).

Kunci keberhasilan dan keberuntungan kita tidak hanya ditentukan oleh kerja keras dan usaha kita tapi sangat ditentukan oleh keterlibatan Allah dan FirmanNya di dalam hidup kita. Keberhasilan dan keberuntungan kita tidak ditentukan oleh nasib dan     ramalan horoskop. Hanya Allah dan firmanNya saja yang menjadi sumber               keberhasilan dan keberuntungan kita. Yosua memimpin bangsa Israel untuk memulai hidup baru di Tanah Perjanjian (Kanaan) dengan mengandalkan Allah dan Firman yang diberikanNya lewat Musa (Yosua 1:8). Yosua melakukan itu, karena ia belajar dari Musa, bapa rohaninya.

Tahun ini adalah tahun dimana kita akan banyak belajar dan mempraktekkan          kebenaran firman Tuhan supaya kita mencapai keberhasilan dan keberuntungan dalam segala aspek. Untuk itu, pergunakanlah momentum-momentum yang terjadi di dalam hidup kita sebagai anak tangga untuk mencapai keberhasilan yang disediakan Allah bagi kita. Paulus berkata bahwa, “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku -- aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus,”(I Tim. 1:12-14).

Paulus yang bertemu Tuhan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik justru          menggunakan momentum panggilan ini untuk menjadi pelayan Tuhan. Ia memberikan respon positif dengan taat kepada Tuhan, sehingga Tuhan memakai hidupnya menjadi rasul untuk mengungkapkan rahasia Gereja bagi dunia. Paulus berhasil dan         beruntung, walaupun ia bukan murid Tuhan Yesus secara langsung. Ketaatannya kepada Tuhan membuat dirinya menjadi rasul yang luar biasa. Jika Paulus bisa      Tuhan pakai, maka kita pun bisa dipakai dengan luar biasa. Kuncinya adalah kita    harus bisa memanfaatkan momentum panggilan Tuhan dengan respon positif yakni mentaatiNya. Semuanya ini dimulai dari Allah dan firmanNya. Mengapa? Karena Yohanes bersaksi, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah," (Yohanes 1:1).
Allah dan Firman adalah Manunggal atau Satu. Jika kita memulai dari Allah dan    firman, maka apapun yang kita lakukan dan katakan, Allah akan campur tangan.    Sebab, "Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah            dijadikan,"(Yoh. 1:2-3). Dalam proses mencapai keberhasilan yang disediakan oleh Tuhan, kita harus melihat kembali kepada kesaksian Paulus, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati,"(Filipi 3:10-11).

Hal ini berarti keberhasilan kita ditentukan oleh pengenalan dan persekutuan kita    dengan penderitaan dan kematian Kristus. Pengenalan kita kepada Kristus harus    sampai kepada kematian 'ego' kita, sehingga terjadi momentum kebangkitan rohani atas hidup kita. Oleh karena itu, kita bisa memakai motto Paulus, "Lupakan apa yang ada dibelakang, arahkan pandangan kepada apa yang ada didepan, dan berlari kepada tujuan panggilan sorgawi, raih dan dapatkan hadiah yang Tuhan sudah sediakan," (Fil. 3:12-14). Mari kita masuki Tahun baru dengan hati bersyukur; Bulan baru dengan pujian dan Hari baru dengan pengalaman yang dahsyat penuh mujizat Tuhan. Selamat Tahun Baru. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin!