Menjadi Ciptaan Baru: Hati dan Pikiran yang Baru

5: 37 Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua  , karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. 5:38 Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. (Lukas 5 : 37-38)

Tuhan selalu menyediakan berkat yang baru, baik itu berkat rohani maupun berkat jasmani. Apapun bentuknya, berkat yang baru tidak dapat kita terima kalau hati kita belum berubah. Berkat yang baru juga tidak akan sampai kepada kita jika pikiran kita belum diperbaharui.

Untuk menerima berkat yang baru perlu kerendahan hati kita. Kerendahan hati membuka pintu yang lebar bagi berkat Tuhan untuk sampai ke dalam hidup kita. Kerendahan hati membuat kita mempercayai dan mengakui kebesaran dan kedaulatan Tuhan karena kita sadar betul bahwa di luar Tuhan kita tidak bisa apa-apa. Selain itu keluasan hati juga dibutuhkan untuk menerima berkat yang baru. Keluasan hati menandakan kedewasaan kita. Tanpa keluasan hati, maka kita cenderung berpikiran sempit, dan hasilnya menjadi serakah dan iri hati. Serakah dan iri hati menandakan bahwa kita masih mementingkan diri sendiri.

Pikiran juga perlu diperbaharui untuk siap menerima berkat yang baru. Cara berpikir kita yang lama akan menghambat kita untuk menerima berkat Tuhan. Bukannya Tuhan menahan berkat itu, tapi kita tidak membuka pikiran untuk menerima dengan maksimal berkat yang sudah Ia kirimkan. Sebelum hati dan pikiran kita diubahkan, seperti manusia pada umumnya, kita cenderung mengukur segala sesuatu dari untung rugi, atau sebab akibat. Padahal anugrah Tuhan seringkali bekerja dengan cara yang di luar dugaan kita. Pikiran dan hati hanya bisa berubah setelah kita mengenal Tuhan dengan intim secara pribadi. Tuhan memberikan atau menyatakan kebaikanNya kepada siapapun yang Dia kehendaki, untuk tujuan penyelamatan dan pemulihan. Jadi Tuhan memberkati kita bukan supaya kita hidup berkelimpahan sendiri, tapi supaya melalui kelimpahan yang Ia percayakan itu kita diselamatkan dan dipulihkan, lalu juga menjadi agen pemulihanNya bagi orang-orang yang belum dipulihkan.

Sudahkah kita memiliki hati dan pikiran yang baru?