Tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi
Lukas 22:42
Pernahkah Anda melihat atraksi akrobat palang gantung (trapeze) di sirkus? Atraksi yang biasanya terdiri dari 2 hingga 3 orang yang bergelantungan di ketinggian hanya dengan papan diikat tali ini butuh skill tinggi karena risikonya juga sangat tinggi. Henry Nouwen, penulis buku Kristen, pernah menceritakan tentang sahabatnya yang berprofesi sebagai pemain akrobat jenis ini. Dalam atraksi ini, ada dua jenis pemain: pelompat dan penangkap. Namun, ada aturan yang harus dipatuhi oleh si pelompat. Saat pelompat melenting dan melepaskan tangannya dari palang, ia harus menjaga posisi tubuhnya tetap diam dan menunggu tangannya ditangkap oleh penangkap. Ia tidak boleh berusaha menangkap tangan rekannya dan harus menunggu ditangkap. Di saat pelompat di udara dan menunggu ditangkap itulah, ia harus benar-benar percaya pada rekannya.
Gambaran iman juga seperti itu. Beriman kepada Tuhan berarti percaya pada kehendak Tuhan. Bukan kehendak kita, melainkan kehendak-Nyalah yang kita percaya. Si pelompat memang harus percaya bahwa si penangkap akan menangkapnya sehingga ia tidak jatuh, tapi apakah si penangkap benar-benar menangkapnya, itu tergantung kehendak si penangkap. Itulah sebabnya Yesus mengajar kita berdoa "Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga" (Mat. 6:10), dan la juga memberi teladan bahwa saat pergumulan puncak-Nya pun la tetap berdoa, "tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Luk. 22:42).
Dalam akrobat palang gantung, selalu ada kemungkinan penangkap gagal menangkap rekannya. Tapi toh rekannya selalu tetap melompat. Adakah kemungkinan Tuhan gagal menolong kita? Tentu tidak. Bahkan meski semua tampak mustahil atau sudah terlambat, la tetap bisa mengubah keadaan karena kuasa-Nya di atas segala kemustahilan. Jadi, tak ada alasan untuk kita tidak mau percaya, bukan? Yang membuat kita sulit percaya sebenarnya adalah pemikiran-pemikiran kita sendiri yang masih lebih kita pegang daripada janji Allah. Maka, tepatlah kalimat "let go and let God" Lepaskan pemikiran, pengalaman, dan kekuatan kita, dan biarkan Tuhan yang bekerja. Bukan kita yang harus menangkap Tuhan, tapi Tuhanlah yang akan menangkap kita.
Yang harus kita percayai adalah kehendak Tuhan, bukan kehendak kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar