Perubahan
adalah Pilihan
Sayangnya,
perubahan selalu terjadi. Tidak
bisa dielakkan dan penting. Walaupun Anda tidak menginginkan perubahan, kehidupan akan terus
berlanjut, tanpa ataupun dengan Anda. Kalau selamanya Anda bertahan dengan pemikiran
kolot bahwa tanpa perubahan semua akan baik-baik saja, itu berarti hidup Anda
berada pada puncak kemunduran.
Predikat
sebagai penghambat perubahan mungkin saja mampir kalau Anda masih saja
bersikukuh memegang sesuatu yang harusnya mengalami perubahan. Saat yang lain
berlomba-lomba menggapai langit, Anda masih sibuk menggaruk-garuk tanah. Yang
lain sudah menggapai bulan, Anda baru mulai memikirkan apakah mungkin manusia
pergi ke luar angkasa. Lebih celakanya lagi, Anda mengajak orang lain untuk tidak
ikut-ikut menuju perubahan dengan dalih bahwa pemikiran lama lebih dapat
dipertanggungjawabkan. Perubahan memang bukan hal yang mudah. Tapi apakah jika
lingkungan Anda mengatakan tidak perlu berubah, Anda akan mengangguk setuju? Sebenarnya Anda tidak harus setuju dengan
pendapat umum, apalagi bila tahu bahwa tanpa perubahan Anda tidak akan
bertumbuh . “Jika selama hidup tidak ada paradigma yang berubah, ini menandakan
kita sudah terlalu nyaman dengan pemikiran kuno atau kita tidak pernah berpikir
sama sekali”, begitu dikatakan Bob Urichuck.
Semua alas an
untuk berbagai masalah memang selalu ada. Tetapi kalau Anda menginginkan atau
mungkin baru tahap membayangkan kapan kehidupan Anda akan setingkat lebih maju
dari sekarang maka inilah waktunya. Inilah saatnya memiliki keberanian untuk keluar dari kenyamanan dan
ketakutan.
Suatu cerita
sederhanaterjadi di sebuah pertambangan pasir tradisional, dengan dua orang
sebagai pelaku utama.sebutlah namanya Budi dan Iwan. Budi selalu berpikir bahwa
dirinya hanya sanggup mengangkat sepuluh pikul pasir sehari. Baginya itu cukup
dan masih ada waktu untuk bekerja besok. Jadi setelah menyelesaikan sepuluh
pikulan, Budi menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran, ngobrol, atau juga
melamun memikirkan nasibnya yang tidak pernah berubah, “Nasib ya nasib ya
nasib… mengapa begini?” begitu lentunannya setiap hari. Makanya, penghasilannya tidak jauh
dari yang ia sanggup.
Walupun
berprofesi sama, Iwan memiliki etos kerja yang berbeda dengan Budi. Baginya,
bekerja adalah kerajinan, loyalitas, memanfaatkan waktu dan tenaga dengan baik,
juga melihat peluang yang bisa dilakukan. Tapi jangan salah, walaupun Cuma angkut pasir,
peluang tetap ada. Seperti ini misalnya, Iwan bisa mengangkut dua puluh pikul
pasir, setelah pekerjaan utamanya beres, dia masih mengangkat batu-batu. Apa
yang dilakukannya berbuah manis. Iwan bisa membawa pulang uang lebih besar dari
Budi.
Namanya juga
kerja di suatu perusahaan yang sama denganjabatan yang sama pula, apa yang
dihasilkan Iwan membuat Budi bertanya-tanya. “Kenapa si Iwan lebih kinclong
dari saya, jabatan kita kan sama. Iwan bisa beli sepatu baru, malam Minggu bisa
jalan-jalan, kenapa saya ngga? Jangan-jangan dia korupsi. Pasti ada permainan
nakal, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus lapor ke komisi anti korupsi.”
Untunglah sebelum
Budi bergerak melapor, Erwin datang menerangkan bagaimana cara kerja budi dan
Iwan. Kalau Budi ingin berpenghasilan seperti Iwan, dia harus mengubah pola
kerjanya, sikap, dan ketekunannya. Sampai kapan pun penghasilannya tidak akan
berubah kalau pola kerjanya tidak pernah diubah. Istilahnya no pay no game,
tidak akan ada hasil tanpa kerja keras. Budi harus memilih antara diam dengan
hasilnya selama ini atau berubah untuk hasil yang lebih baik. Kalau dia tetap
melakukan pola yang sama maka dia tidak mungkin memperoleh hasil seperti Iwan.
Seorang penulis
bernama Arnold Benneth pernah mengatakan, “Yang tragis adalah orang yang seumur
hidupnya tidak pernah mengerahkan seluruh kemampuan maksimalnya”.
Anda mempunyai
kemampuan untuk menjadi seorang murid atau mahasiswa bukan hanya sekadar
pintar, atau lulus tepat waktu, Anda memiliki potensi untuk menjadi mahasiswa,
karyawan teladan, manajer yang handal, usahawan yang sukses, ataupun pemimpin
yang diperhitungkan. Tapi Anda tidak akan pernah bisa menjadi seperti semua
itu, kalau Anda tidak memiliki keinginan untuk mengubah cara berpikir, cara
belajar, cara bekerja, dan cara pandang terhadap apa yang dikerjakan sekarang.
Baru sedikit Anda menggerakkan
kemampuan yang dimiliki. Belum setengah, belum sampai menggerakkan roda.
Milikilah
keberanian dengan mengubahnya menjadi kekuatan penuh, yang akan menggerakkan
seluruh kemampuan. Miliki keyakinan bahwa Anda bisa melakukan daripada apa yang
dapat Anda lakukan sekarang. Yakinlah bahwa Anda layak diperhitungkan, seorang
yang tidak hanya mendapat keberhasilan, tetapi juga kebahagiaan dan kepuasan.
Anda sudah dianugerahi potensi yang bisa digali dan dikembangkan, jadi,
walaupunAnda berada di padang pasir, janganlah mejadi pasir. Milikilah sesuatu
yang berbeda. Meskipun sakit, berkali-kali jatuh, dan mengeluarkan banyak
keringat, tetapi sekeliling Anda akan merasakan kehadiran Anda. Mereka mengenal
Anda karena Anda berbeda. Anda berbeda karena berani berubah untuk memperoleh
segala sesuatu yang lebih baik.
Jangan takut atau
anti terhadap perubahan, karena A.R.Bernard mengatakan, “Kalau suatu perubahan
dibutuhkan dan seseorang menolak untuk berubah, maka keputusannya untuk tidak
berubah itu akan membawanya kepada kehancuran.”
Anda tidak boleh
takut terhadap peruabahan, karena perubahan selalu terjadi. Ada yang datang dan
pergi, ada yang lama dan baru, ada yang menjadi baik atau menjadi buruk. Yang
tidak pernah berubah hanya perubahan itu sendiri. Berubah justru menunjukkan
sampai sejauh mana potensi yang Anda punya.
ADA YANG BISA
DIUBAH, ADA YANG TIDAK
“Kenapa kamu yang
harus jadi anaknya presiden SBY, bukannya aku?”
“Ya takdirlah,
enggak bisa ditolak.”
“Anehnya, kenapa
dia yang duluan meninggal, padahal umurnya masih mudah banget.”
“Nasib kale… mana
bisa dilawan.”
Kata-kata takdir,
nasib, atau yang sejenis dengan itu banyak beterbangan di sekitar Anda, untuk
menggambarkan bahwa manusia mau tidak mau selalu diperhadapkan pada situasi
yang tidak mungkin diubah atau dihindari. Ada minimal 10 hal yang tidak bisa
diubah dalam hidup manusia, yang biasa disebut dengan takdir, yaitu Siapa orang
tua Anda, Waktu dalam sejarah, Ras-suku-etnis, Kebangsaan, Jenis kelamin-Pria
atau wanita, Urutan keliharan, Jumlah saudara kandung, Ciri-ciri fisik,
Kapasitas mental, usia dan kematian. Tetapi hal-hal diluar itu adalah hal-hal
yang bisa kita ubah dalam kehidupan.
Akan tetapi
apabila nasib diartikan sebagai apa yang akan dialami di masa depan maka
keputusan dan perubahan yang Anda buat hari ini akan sangat mempengaruhi masa
depan Anda. Keadaan kaya atau kiskin, cita-cita tercapai atau tidak, menjadi
pintar atau bodoh, bukanlah takdir, melainkan hal yang bisa diubah. Sayangnya,
banyak orang menginginkan gaji besar, kehidupan yang lebih baik, dan menjadi
orang yang lebih pintar, tanpa dibarengi dengan usaha yang sejalan dengan
keinginannya. Padahal keinginan besar yang menggebu-gebu tanpa dibarengi dengan
perubahan pola piker, perbuatan, dan tindakan akan tetap membuat kita menjadi
manusia yang sama seperti dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Contohnya ini:
Eddy dan Dany
memiliki kehidupan social yang sangat kontras. Dengan segala kelimpahannya Eddy
hidup dan tinggal di daerah elit. Dan dengan segala kekurangannya Dany tinggal
di daerah kumuh. Lama berselang Dany merasa bosan dan putus asa, menganggap
kehidupan ini tidak adil. Lalu,
ia meminta pada Yang Mahakuasa untuk bisa hidup seperti Eddy. Dengan satu
maksud, permintaannya dikabulkan. Ia pindah hidup di daerah elit dengan segala
kelimpahan yang dimiliki Eddy. Begitupun sebaliknya, kehidupan Dany menjadi
milik Eddy.
OKB atau orang
kaya baru, itulah julukan Dany sekarang. Melakaukan segal hal yang biasa ia
lihat dari kehidupan orang-orang kaya. Hari-harinya menjadi mudah dan
menyenangkan. Tapi ia melupakan satu hal, tidak melihat atau bertanya bagaimana
Eddy bisa mendapatkan kehidupan yang serba ada. Lalu apa yang terjadi dengan
Eddy? Dia tidak ingin berpangku tangan dan meratapi nasibnya yang turun ke
bawah. Dia berpikir bahwa kehidupan yang sudah dia dapatkan di daerah elit,
harus dia dapatkan lagi di situ. Eddy bekerja keras untuk mengubah daerah
kumuhnya menjadi daerah elit. Beberapa tahun kemudian, perlahan namun pasti,
daerah yang ditempatinya berubah menjadi daerah yang diinginkannya. Bagaimana
dengan Dany? Meskipun sudah memiliki kehidupan yang lebih baik, akan tetapi
gaya hidup Dany tidak pernah berubah. Berpikir dan tindakannya tetap
mempergunakan pola lama. Tidak heran bila dalam waktu yang tidak lama, daerah
elitnya menjadi seperti daerah kumuhnya dulu dengan segala kekurangannya.
Kadang kala
banyak orang mempertanyakan yang kaya semakin kaya, yang sukses semakin sukses,
atau yang miskin tetap miskin, dan yang malas semakin malas. Jawabannya mudah,
karena ada orang yang mau mengubah gaya hidupnya dan ada juga yang tidak mau
mengubah gaya hidupnya. Maka kemudian hasilnya adalah seorang pecundang di
manapun dia ditempatkan tetap pecundang, dan seorang juara di mana pun dia
berada tetaplah seorang juara.
Jika Anda tetap
melakukan hal yang sama seperti dulu, Anda tidak akan memperoleh hasil yang
berbeda. Kalau menginginkan hasil yang berbeda, Anda harus mengubah tindakan
Anda.
Mengerjakan
dengan cara yang sama tetapi mengharapkan hasil yang berbeda adalah perbuatan
orang gila. (Einstein)
Sebanyak
hal-hal yang tidak dapat diubah, sebanyak itu pula hal-hal yang dapat diubah.
Hal-hal yang dianggap tidak bisa dilakukan sebenarnya adalah sesuatu yang belum
pernah Anda coba lakukan.
Anda tidak
akan pernah tahu apakah sebuah perubahan itu untuk Anda atau bukan kalau Anda
tidak pernah mencobanya. Kalau
langkah Anda pendek, Anda hanya akan mendapatkan sedikit dari apa yang sudah
disediakan. Jika Anda memutuskan untuk memiliki langkah panjang, walau perlu
waktu untuk melihat seluruh isi dunia tapi Anda sudah mulai melakukannya –
perubahan sekecil apa pun sedikit demi sedikit dapat membawa kebaikan dalam
diri Anda, dibandingkan menjaid manusia mandeg yang tidak mengalami perubahan
apa pun.
Janganlah kamu
menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang
berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)