Ketika seseorang merasa kuat, tubuh sehat, ekonomi baik, semuanya serba berjalan mulus dan tidak ada ancaman dalam bentuk apa pun, orang tersebut aksn cenderung tidak bersikap rendah hati di hadapan Tuhan dan tidak merasa membutuhkan Tuhan secara proporsional.
Pada saat seperti ini seseorang cenderung hidup suka-suka sendiri, tidak mempedulikan Tuhan dan perasaan-Nya. Mereka seperti kebanyakan manusia pada umumnya merasa bahwa hidup ini adalah miliknya. Seperti Lusifer yang memberontak, tidak mengakui bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan yang diciptakan hanya untuk melakukan kehendak Penciptanya. Hidupnya sebenarnya adalah milik Allah bukan miliknya sendiri. Pemberontakannya dalam bentuk usaha atau praktek memuaskan keinginannya sendiri, irama hidupnya adalah “aku ingin” (Yes. 14:13-14). Dengan sikap tersebut makhluk ciptaan menolak mengakui dominasi Tuhan atas dirinya. Ini berarti menolak hidup dalam pemerintahan Allah. Inilah makhluk yang tidak tahu diri. Secara tidak langsung ia hendak memisahkan diri dari Penciptanya. Makhluk seperti ini suatu saat akan bertemu dan tertumbuk pada kenyataan betapa rentannya dirinya tanpa Tuhan. Ketika belum menghadapi suatu keadaan yang sukar dimana ia tidak dapat menanggulanginya, ia masih bersikap tinggi hati.
Orang seperti ini tidak menyadari betapa rentannya hidup ini dalam segala hal. Setiap saat malapetaka dan bencana bisa mendekati dan manusia tidak bisa menyelesaikannya. Seperti bencana alam dan berbagai kecelakaan yang terjadi, ini menunjukkan bahwa sehebat-hebatnya manusia dengan teknologinya tidak akan dapat meloloskan diri dari malapetaka dan bencana. Memang kejadian tidak diharapkan tetapi bayangkan suatu saat handphone anda berdering, ketika diangkat dari penelpon memberitahukan bahwa anak kecelakaan, rumah terbakar, cucu diculik, keluarga sakit yang tidak ada terapinya, orang yang anda kasihi meninggal dan lain sebagainya. Seribu satu masalah bisa mendatangi dan anda tidak bisa mengelak. Sampai suatu saat manusia menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat lemah dan serba terbatas. Keadaan yang paling mengerikan ketika manusia harus meninggal dan menjumpai realitas kekekalan. Semua kehebatan dan keberhasilan selama hidup di dunia tidak ada artinya sama sekali. Untuk orang seperti ini Tuhan mengingatkan melalui Yakobus agar tidak menjadi sombong sebab hidup ini seperti uap (Yak. 4:13-17). Dalam seluruh langkah hidup ini yang menjadi landasannya adalah “jika Tuhan menghendaki”. Maksud pernyataan ini adalah selalu berusaha untuk menyukakan hati Tuhan. Bukan apa yang aku ingini atau yang memuaskan hatiku, tetapi apa yang memuaskan hati Tuhan.
Kalau seseorang masih hidup untuk keinginannya sendiri, berarti ia sombong. Ingat, hidup manusia itu seperti uap.... (Truth)