Perjalanan hidup kekristenan kita harus menjadi sebuah perjalanan untuk mewujudkan apa yang diajarkan Alkitab. Mewujudkan apa yang diajarkan Alkitab pada dasarnya adalah mengalami Tuhan setiap hari secara nyata, sehingga tidak ada keraguan sama sekali atas keberadaan Tuhan dalam kehidupan ini. Mengapa terdapat begitu banyak kisah yang ditulis dalam Alkitab? Untuk apa semua itu disaksikan? Supaya kita dapat mengenal siapa Tuhan itu dan apa hakikat-Nya, dan menemukan pengalaman manusia yang berjalan dengan Tuhan. Hal ini akan menginspirasikan kita, bagaimana menjadi manusia yang berjalan dengan Tuhan. Pengalaman-pengalaman luar biasa tokoh-tokoh Alkitab bersama dengan Tuhan menjadi pengalaman yang kita alami juga.
Kelihatannya ini sederhana, tetapi sebenarnya tidak. Berapa banyak di antara kita yang benar-benar telah mengalami kehadiran Tuhan dalam kehidupannya? Pernahkah kita renungkan bagaimana tokoh-tokoh iman seperti Nuh, Abraham, Yusuf, Musa, Daud, Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, Petrus, Paulus berjalan dengan Tuhan dalam pergumulan hidup yang mereka jalani? Tentu, sebagaimana manusia, ada saat-saat di mana mereka menjadi kecewa dan ragu-ragu terhadap Tuhan yang tidak mudah dipahami, sebab Ia bukanlah Sosok yang mudah diselidiki; selalu ada sisi misteri yang tidak mudah terbaca. Nuh yang membangun bahtera hanya dengan keluarganya sendiri (Ibr. 11:7), Abraham puluhan tahun menanti anaknya dilahirkan, tidak pernah melihat negeri yang dijanjikan, harus mempersembahkan anaknya (Ibr. 11:8–19). Musa menghadapi pahitnya perjalanan di padang gurun (Ibr. 11:24–29). Sadrakh dan kawan-kawan harus masuk dapur api (Dan. 3:8–30), dan sebagainya. Tetapi pada akhirnya mereka menjadi manusia-manusia yang lulus dari kehidupan ini, dan berijazah sebagai “sahabat atau kekasih Allah”.
Untuk mewujudkan apa yang diajarkan Alkitab, kita harus masuk ke dalam kebenaran Tuhan dengan sepenuh hati dan segenap hidup beserta segala pengorbanannya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Pada kenyataannya, tokoh-tokoh iman yang terpilih sebagai sahabat Allah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk menerima panggilan berjalan dengan-Nya. Ketika mereka masih hidup, pasti mereka dianggap konyol oleh orang-orang sezamannya. Tetapi sekarang, setelah ribuan tahun, kita dapat menemukan betapa beruntungnya mereka bisa berjalan dengan Tuhan. (Truth)