Baca: 2 Korintus 5:11–21
Karena Tuhan telah memberikan dirinya sendiri, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberi yang terbaik bagi Tuhan. Masalahnya adalah, apakah yang terbaik itu? Yang terbaik bukan diukur dari jumlah pemberian atau persembahan. Dalam ay. 14–15, dinyatakan bahwa tidak ada persembahan yang dikatakan terbaik, kecuali semuanya harus dipersembahkan, artinya kita sudah mati, tidak ada yang tersisa pada kita. Bukan diukur pada jumlah yang diberikan, tetapi sisa yang masih di simpan untuk diri kita sendiri. Yang terbaik menyangkut sikap hati, artinya yang kita persembahkan bagi Tuhan diukur dari hati. Hati ini diukur dari perkenanan Tuhan atas apa pun yang kita lakukan (harus ada dalam pemerintahan Tuhan). Hati juga diukur dari kecintaan kita kepada Tuhan.
Persembahan yang terbaik kepada Tuhan adalah sikap mengembalikan kepada-Nya, bukan memancing berkat Tuhan. Allah menghendaki kita memberi apa yang terbaik bagi-Nya. Hal ini jelas dapat kita mengerti, sebab seharusnya Dia yang Tertinggi layak menerima persembahan yang terbaik. Kesediaan kita memberi yang terbaik bagi Tuhan adalah ciri kedewasaan kita dan kecintaan kita kepada Tuhan. Pemberian tanpa kerelaan pastilah pemberian palsu.
Yang terbaik juga menyangkut waktu yang tepat untuk berbuat bagi Tuhan. Persembahan yang bukan pada waktunya bisa tidak berarti. Pada waktu kita diberi kesempatan untuk mencari Tuhan dan bertobat, maka haruslah kita gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Tuhan Yesus mengatakan, “Bekerjalah selagi hari siang” (Yoh. 9:4). Kita harus mulai saat ini, sebab kesempatan yang diberikan Tuhan bisa berlalu dan kita kehilangan kesempatan selama-lamanya. Jangan berpikir bahwa kesempatan bisa diatur dan ditentukan oleh diri sendiri, sebab kesempatan hari ini tidak bisa ditukar dengan kesempatan hari esok. Kesempatan hari ini adalah untuk hari ini, besok ada kesempatan lain. Tetapi harus dicatat kalau kita mengabaikan kesempatan hari ini, mungkin esok tidak ada kesempatan lagi, sebab kesempatan esok ditentukan oleh sikap kita atau respons kita terhadap kesempatan hari ini. Maka apakah kesempatan tersebut menjadi berkat ataupun kutuk, tergantung keputusan dan pilihan kita.
Maka sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh-Nya, mengapa kita masih tidak mau memberikan yang terbaik? Dengan menghargai anugerah keselamatan-Nya, tidak mungkin kita tidak memberikan yang terbaik. Sekarang saatnya kita berkata dengan tulus kepada Tuhan, “Berbicaralah Tuhan, hamba-Mu mendengar”. (Truth)