SELALU MEMIKIRKAN TUHAN

Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. (Kol.3:2)

Hari ini begitu mudahnya orang memalingkan fokusnya dari Tuhan. Saat kaki melangkah keluar dari pintu gereja, maka Tuhan juga menguap dari pikiran. Ini menjadi irama hidup yang berlangsung dari tahun ke tahun; dan orang tidak merasa bersalah. Mereka merasa telah membayar kewajibannya sebagai orang beragama dengan datang ke rumah ibadah. Menurut mereka, Tuhan cukup diperlakukan seperti itu, dan Ia telah menerima porsi yang cukup untuk dipedulikan. Mereka tidak sadar bahwa kita yang membutuhkan Tuhan, bukan sebaliknya. Mereka menganggap diri mereka sudah jauh lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak ke gereja; jauh lebih baik daripada orang-orang yang ada di dalam penjara.

Bagaimana mungkin kita dapat sungguh-sungguh menghayati kehadiran Tuhan dalam kehidupan ini, bila memikirkan Tuhan hanya ketika kita ada dalam ruangan gereja? Kenyataan yang ada ialah banyak orang sebenarnya belum mampu menjangkau Tuhan. Mereka tidak merasakan dan tidak memahami kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Baginya, Tuhan bagai “makhluk asing” yang tidak dikenalinya dalam pengalaman konkret. Semua yang dipahami mengenai Tuhan hanya sebuah teori mengenai Tuhan. Sebenarnya mereka belum bisa merasakan kehadiran Tuhan yang hidup dan nyata dalam kehidupan ini.

Kalau seseorang yang mengingini sesuatu, ia akan memikirkannya senantiasa dan di mana pun ia berada. Mengapa untuk Tuhan kita tidak belajar memikirkannya senantiasa dan di mana saja? Pemazmur mengatakan, “… Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mzm. 73:25). Bila dengan disiplin kita berusaha memikirkan-Nya sampai Tuhan menjadi lebih dari sebuah kebutuhan—artinya menyatu dengan hidup kita—irama ini menjadi irama abadi yang tidak pernah hilang dari kehidupan kita. Sebagai akibatnya, kita akan berusaha hidup berkenan kepada-Nya. Setiap kali berbuat salah, jiwa kita akan sangat terganggu. Kita akan melayani Tuhan dengan mengasihi sesama, seperti yang Tuhan ajarkan dan memikirkan perkara-perkara yang di atas (Kol 3:1–3).

Marilah kita memikirkan Tuhan setiap saat dan di segala tempat, sampai hal menghayati kehadiran Tuhan merupakan irama yang otomatis berlangsung dalam kehidupan kita. Kita tidak perlu memaksa pikiran kita untuk diarahkan kepada Tuhan, sebab sudah terarah dengan sendirinya. Ini sebuah kehidupan yang benar-benar indah. Tuhan menyediakan segala berkat yang benar-benar luar biasa, melampaui pikiran kita di dalam kehidupan yang menghayati kehadiran Tuhan.