UKURAN MEMBERI SEPENUHNYA



Idealnya dalam hidup kekristenan yang dipersoalkan bukan apakah kita memberi banyak atau sedikit, tetapi apakah kita memberi semuanya (sepenuhnya) atau tidak sama sekali. Prinsip ini mutlak sekali. Hendaknya prinsip ini tidak dirusak atau dipahami salah oleh ajaran memberi bagi Tuhan dengan prosentase apalagi iming-iming dikembalikan lipat ganda oleh Tuhan. Ajaran yang salah ini memang memperkaya gereja, tetapi mendidik umat memberi sebagian dan menjadi pemberontak. Mereka menempatkan diri bukan sebagai anak tebusan. Harus dicatat, bahwa tidak ada penebusan sebagian, tetapi penebusan sepenuhnya atau seluruhnya. Ini berarti seorang yang menerima penebusan-Nya harus menerima bahwa ia tidak memiliki dirinya sendiri lagi. Mereka yang tidak mengerti kebenaran ini menganggap kalau sudah memberi persepuluhan berarti sudah membayar kewajibannya kepada Tuhan. Apalagi kalau memberi lebih dari persepuluhan, maka menganggap bahwa dirinya sudah memuaskan hati Allah. Kewajiban yang harus dipenuhi adalah melepaskan diri dari segala miliknya bagi Tuhan. Seperti seorang tawanan yang tidak berhak sama sekali atas dirinya. Kita telah ditebus oleh Tuhan, maka kita harus benar-benar hidup dalam tawanan Roh-Nya.

Kalau anda memiliki seribu, memberi seratus bagi Tuhan itu sangat kecil, bahkan sekalipun memberi sembilan ratus juga masih kecil, atau memberi semuanya belum tentu benar. Sebab apa artinya memberi seluruh harta bila tanpa kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya (1 Kor. 13:3).Mengapa demikian? Sepenuhnya tidaklah diukur dengan jumlah tetapi dengan sikap hati yang berkenan di hadapan-Nya, dan yang berkenan adalah yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Allah adalah kasih, segala tindakan yang tidak sepikiran dan seperasaan dengan Allah bukanlah kasih. Jadi kalau berurusan dengan Tuhan, yaitu hendak memberi persembahan masih berhitung prosentase, apalagi karena mau mendapat pengembalian lipat ganda, itu bukan tindakan kasih. Dengan pernyataan ini bukan berarti kita merasa terbebas dari menyisihkan harta yang ada pada kita bagi pekerjaan-Nya. Kita harus memuliakan Allah dengan harta kita, tetapi dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga sesuai dengan kehendak Tuhan. Ingat kita adalah kasir, kasir bukanlah pemilik. Kasir hanya mengelola uang milik majikan sesuai dengan kebijaksanaan atau keinginan sang majikan. Betapa konyolnya kalau seorang kasir menyerahkan uang kepada majikannya seakan-akan dia memberi, apalagi mengharapkan pengembalian lipat kali ganda. Ingat, segenap hidup kita milik Tuhan bahkan partikel paling kecil yang ada pada kita.

Sepenuhnya tidaklah diukur dengan jumlah tetapi dengan sikap hati yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. (Truth)