BERJUANG SAMPAI GARIS FINISH

Kompas, 14 September 2004 menurunkan berita yang heboh dari cabang Atletik pada PON XVI,  di Palembang. Demikian, “Titik darah penghabisan. Semangat luar biasa dan pantang menyerah di    tampilkan Feri Subnafeu, pelari Maraton Putri asal NTT. Berjuang seolah tidak terjadi sesuatu hingga titik darah penghabisan saat perlombaan maraton putri PON XVI, Minggu (12/9).”

Pada saat itu, “Feri terlihat sempoyongan dan kakinya mulai gemetaran melewati jembatan memasuki stadion sekitar 500 meter dari garis finish. Dia memaksakan diri untuk maju terus. Dengan wajah yang pucat pasi, Feri tidak mampu berdiri tegak sekitar 50 meter menjelang garis finish. Tubuhnya limbung dan nyaris rubuh jika tangannya tidak menopang di aspal jalan. Langkahnya terseok-seok, miring ke kiri dan ke kanan, setapak demi setapak dengan setengah merayap akhirnya menyentuh pita penanda garis finish, dengan waktu 2:57.44 detik.” Kemudian pingsan, tetapi ia merebut medali emas.


 Segera para medis memasang oksigen pada hidungnya dan membawanya ke medical center. Satu jam kemudian, dia berkomentar, “Tadi di kilometer 38 sebenarnya saya sudah pasrah karena tenaga saya sudah habis. Kaki saya seperti sudah mati rasa, tetapi saya berpikir saya harus sampai    finish.” Tekad mencapai garis finish itulah yang membuat Feri melepas sepatu serta kaos kaki yang menghalangi dirinya. Darah bercucuran dari kakinya, tetapi ia terus merangkak mencapai garis finish. Mengapa ia melakukan itu? Sebab ia mempunyai fokus yakni garis finish. Bagaimana dengan kita    sebagai murid Kristus? Apakah kita ingin menyerah dengan fokus kita tahun 2013 ini?

Sebagai MURID KRISTUS, apa yang harus kita lakukan?

1. JANGAN MENYERAH, TETAPI TETAP BERFOKUS PADA SASARAN AKHIR.

Ilmuwan Amerika Serikat, Thomas Alfa Edison pernah berkata, “Banyak orang gagal dalam hidup karena mereka menyerah pada saat mereka hampir berhasil.” Namun kita menyerah kalah sebelum  mencapai sasaran akhir yang Tuhan berikan kepada kita untuk diselesaikan. Jangan menyerah dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini. Percayalah, Tuhan yang hidup telah memiliki rencana besar atas kita sebagai seorang Murid Kristus yang akan melakukan perkara besar bersama Dia. Jangan menyerah jika doa-doa kita kepada jiwa-jiwa yang belum diselamatkan belum terlihat hasilnya.
Ralph Waldo Emerson pernah menulis, “Awaslah kalau Allah yang besar itu melepaskan seorang pemikir besar di planet ini.” Apakah Anda adalah pemikir besar yang dilepaskan Allah atas bumi ini? Tujuan Allah yang utama adalah menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Bersama Tuhan kita pasti mencapai garis akhir. Ingatlah Feri Subnafeu yang bertekad untuk mencapai garis akhir, sekalipun kakinya bercucuran darah. Paulus berkata, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya,” (2 Tim.4:6-8).

2. BERJUANG UNTUK MENCAPAI GARIS FINISH
Menjelang 50 meter dari garis finish, Feri Subnafeu tidak dapat mengangkat kakinya dan banyak orang mendekati dia untuk menolongnya. Tetapi atlet nasional, Eduard Nabunome berkata, “Jangan ada yang pegang. Jangan dibantu, nanti dia kena diskualifikasi.” Dan hasilnya, Feri merebut medali emas.

Pada saat-saat tertentu di dalam hidup-Nya, Yesus juga harus menjalani masa seperti ini sendirian dan tidak boleh dibantu oleh siapapun. kataNya, “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. 
Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku,” (Yoh.16:32). Jikalau Yesus Kristus saja mesti mengalami masa seperti itu, bagaimana dengan kita yang menjadi pengikut-Nya? Jangan berhenti mendoakan jiwa-jiwa yang terhilang sebelum doa saudara terjawab.

3. JANGAN TERLALU MEMBESAR-BESARKAN KEGAGALAN KITA

Ingatlah akan kisah 10 orang pengintai yang diutus oleh Musa untuk mengintai tanah Kanaan. Mereka terlalu membesar-besarkan masalah yang ada sehingga membuat para pendengarnya     menjadi ciut. Berapa kalikah kita tanpa sadar telah membuat diri kita seperti para pengintai itu? Akibatnya, banyak janji-janji Tuhan yang telah diberikan kepada orang lain atau gereja Tuhan   menjadi sirna karena kata-kata kita. Kita harus bertobat dari sifat terlalu membesar-besarkan masalah seolah-olah Allah lebih kecil dari masalah kita. Jikalau jiwa-jiwa yang kita layani belum berhasil, malahan banyak masalah yang timbul, jangan terlalu membesarkan itu, tapi doakanlah pada Allah yang selalu setia.
Ingatlah, setelah pasukan Firaun tenggelam di laut Teberau, Musa menyanyikan pujian bagi Tuhan. Katanya,”Tangan kanan-Mu, Tuhan, mulia karena kekuasaan-Mu, tangan kanan-Mu, Tuhan, menghacurkan musuh. Dengan keluhuran-Mu yang besar Engkau meruntuhkan siapa yang bangkit menetang Engkau; Engkau melepaskan api murka-Mu yang memakan mereka sebagai tunggul gandum,” (Kel.15:6-7). Apakah ada Firaun-firaun tertentu di dalam hidupmu? Jangan terlalu membesar-besarkan dia.

4. JANGAN TAKUT MENGHADAPI RAKSASA PRIBADI KITA

Daud tidak pernah mengalahkan raksasa Goliat, jikalau ia tidak pernah membunuh beruang terlebih dahulu. “Tetapi Daud berkata kepada Saul: ‘Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singat atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup,” (1 Samuel 17:34-36).
Jangan meremehkan pengalaman pribadi saudara bersama Tuhan. Banyak orang yang meremehkan apa yang mereka alami setiap hari bersama dengan Tuhan. Kita tidak dapat mengalahkan raksasa-raksasa besar di dalam diri kita, jikalau kita lalai belajar dari mukjizat-mukjizat dan hal-hal kecil yang telah kita lewati bersama dengan Tuhan. Apakah kita masih berfokus kepada jiwa-jiwa yang dipercayakan Tuhan kepada kita? Jangan pernah menyerah, tetaplah terus berjuang karena Allah beserta dengan kita untuk mencapai garis finish yakni memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan. Kemuliaan-Nya akan terpancar melalui kita, jikalau kita tidak pernah menyerah untuk mengejar impian itu.
Ingat! Bersama Allah, kita sanggup dan tidak ada yang mustahil bagi kita yang percaya. Yesus berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.”


Pada akhirnya yang paling disesali oleh orang bukanlah karena apa yang telah dilaakukannya tetapi karena apa yang tidak dilakukannya padahal dia mampu atau bisa melakukannya.