MOMENTUM TUHAN

Baca: 1 Korintus 7:26–35

Rasul Paulus menjadi seorang yang demikian militan bagi Kristus, sebab ia mengira kedatangan Kristus yang kedua kali akan terjadi sewaktu ia masih hidup. Itulah sebabnya ia merasa sisa waktu yang ada sudah dalam masa darurat. Ia merasa sudah tidak ada banyak kesempatan lagi; semua harus difokuskan kepada Tuhan, bagaimana mencari perkenanan-Nya.

Di zaman modern ini banyak orang yang tidak berniat untuk mengkhianati Tuhan, tetapi berpikir bahwa masih ada kesempatan di masa depan untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan selalu ada waktu untuk menemukan Tuhan. “Nanti saja, sesudah punya rumah sendiri,” lalu “Nanti saja, sesudah menikah,” lalu “Nanti saja, sesudah punya anak,” dan seterusnya, tak ada habis-habisnya, sebab orang mudah menganggap sesuatu lebih penting daripada Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Dengan pikiran ini orang-orang merasa aman dan damai, dalam zona kenyamanan rohani. Padahal itu semua perasaan aman dan damai semu. Mereka sudah dijebak oleh perangkap kuasa kegelapan yang hendak menggiring mereka seperti domba kelu dibawa ke pembantaian.

Sementara hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, Iblis berusaha mewarnai hidup manusia dengan segala warna kehidupan yang membuat kebenaran Tuhan tidak mendapat tempat dalam hidupnya. Sebagai gantinya Iblis menyediakan kebenaran palsu, sehingga orang itu merasa telah memberi tempat bagi Tuhan, karena sudah menjalankan kewajiban agama. Padahal tanpa mengisi jiwanya dengan kebenaran Tuhan dan pengalaman pribadi yang konkret dengan-Nya, berarti seseorang tidak memberi tempat bagi Tuhan.

Lebih baik kita mengenakan pandangan Paulus, “Waktu telah singkat!” (ay. 29) Anggap saja tidak ada kesempatan lagi, sehingga kita tidak membiarkan momentum berharga yang disediakan Allah bagi kita yang dikasihi-Nya berlalu dengan sia-sia. Momentum ini bisa berupa pengajaran Firman Tuhan yang dapat menjadi kunci pembuka pengertian dalam pengalaman hidup untuk menemukan Tuhan. Tanpa kunci ini, pengalaman hidup yang mengandung pembentukan Tuhan untuk menyempurnakan hidup menjadi tidak berdampak sama sekali.

Sesungguhnya momentum ini adalah anugerah bertahap yang harus diterima secara berkesinambungan, jadi tidak ada alasan yang dapat membenarkan kita untuk tidak setia mempelajari kebenaran Tuhan. Apa pun tidak boleh dipandang lebih berharga daripada perkara Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Jangan biarkan momentum dari  Tuhan berlalu dengan sia-sia.