Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. (Flp. 1:29)
Betapa menyedihkan, ternyata tidak sedikit orang percaya yang hanya nimbrung atau ikut-ikutan dalam pelayanan tanpa mengerti prinsip salib. Padahal melayani itu berarti berkorban atau memikul salib. Pelayanan bukan sekadar mengisi waktu kosong atau karena perasaan sentimentil, simpati atau empati seseorang terhadap gereja dan pendeta; melainkan kesediaan berkorban menumpahkan seluruh hidup ini bagi kepentingan pekerjaan-Nya. Membantu penyelenggaraan aktivitas kebaktian di gereja belumlah merupakan pelayanan yang lengkap dan benar. Marilah kita sadari bahwa pelayanan pekerjaan Tuhan di dalam maupun di luar lingkungan gereja harus dilakukan dengan landasan sikap hidup yang benar.
Sikap hidup itu adalah kesediaan memikul salib. Kesediaan ini harus berangkat dari kesadaran pribadi dan kerelaan yang benar-benar tulus dari diri sendiri, bukan karena tekanan maupun paksaan siapa pun. Untuk hal ini seseorang harus menggunakan kehendak bebasnya untuk aktif menggerakkan dirinya memikul salib.
Segenap hidup kita—tenaga, uang, perasaan, waktu—harus dikorbankan bagi pelayanan pekerjaan Tuhan. Paulus mengatakan bahwa kita dipanggil bukan hanya untuk percaya, melainkan juga untuk menderita bagi Dia. Perhatikan Petrus menulis dalam 1Ptr. 2:21, “sebab untuk itulah kamu dipanggil”. Kalau kita tidak mau mengerti kebenaran ini atau menolak melakukannya, maka panggilan kita belum lengkap dan kekristenan kita tidak bermutu, sebab panggilan menjadi anak Tuhan baru lengkap kalau kita bukan saja percaya kepada Tuhan, melainkan juga menderita bagi-Nya.
Dalam 1Ptr. 2:19–20, panggilan untuk menderita bagi Tuhan ini ternyata adalah kasih karunia. Dalam teks aslinya tertulis “kharis para Theo”. Kharis dapat diterjemahkan sebagai “perkenanan, keuntungan, hak istimewa, anugerah, hadiah, kenikmatan”. Jadi penderitaan karena kehendak Allah atau salib adalah sesuatu yang menguntungkan bagi kita, suatu anugerah, atau hal yang sungguh menyenangkan hati Tuhan. Dalam Alkitab Terjemahan Lama diterjemahkan, “itulah yang berkenan kepada Allah”. Itulah yang menyenangkan hati Tuhan. Jadi hati Tuhan disukakan bukan hanya ketika kita menikmati berkat jasmani dan hidup dalam sukacita karena berkat-Nya, melainkan juga tatkala kita memikul salib atau menderita bagi pekerjaan-Nya.