MENDAHULUKAN YANG TERUTAMA

Ketika kita menghayati secara mendalam kebenaran mengenai siapakah diri kita, siapakah Tuhan yang menciptakan diri kita, untuk apa kita hidup, dan ke manakah kita setelah menyelesaikan pengembaraan hidup di dunia ini, akan tampak paling tidak tiga hal penting dalam sikap hati kita.

Pertama, kita menganggap diri kita tidak berarti sama sekali, dengan demikian ia hidup hanya memberi nilai tinggi pada Tuhan saja. Dalam hidup ini, bagi kita tidak ada kebanggaan selain Tuhan (1Kor. 1:31). Orang seperti ini tidak mungkin materialistis. Inilah orang-orang yang dapat menyembah Tuhan tanpa batas. Menyembah Tuhan tanpa batas bukan diukur dari teknik menyembah dan eksploitasi perasaan, tetapi penghargaan terhadap nilai-nilai rohani atau penghargaan terhadap Tuhan sendiri.

Kedua, tidak merasa memiliki apa pun, kecuali Tuhan sendiri dan mengabdi kepada-Nya (Mzm. 73:25–26). Ini berarti dalam hidup ini kita tidak memiliki prioritas lain kecuali Tuhan. Tuhan menjadi segalanya dalam hidup ini. Segala sesuatu yang kita lakukan, dalam pekerjaan, keluarga, bahkan makan dan minum, dilakukan bagi kemuliaan Tuhan (1Kor. 10:31).

Ketiga, tidak memiliki kesenangan lebih dari kesenangan kita terhadap Tuhan sendiri. Tuhanlah sumber kesenangan kita (Mzm. 43:4). Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai kesenangan prima, maka kita tidak bersalah dalam menikmati segala kesenangan yang lain. Tetapi ketika kita tidak menjadikan Tuhan sebagai kesenangan prima, maka pasti ada yang diberhalakan.

Ketiga hal ini menegaskan bahwa mengutamakan Tuhan bukanlah suatu tindakan semata-mata, tetapi sikap hati. Setelah sikap hati kita terbentuk untuk dapat mengutamakan Tuhan, maka segala sesuatu yang kita lakukan didorong oleh sikap hati tersebut. Jadi suatu perbuatan bisa dikatakan sebagai tindakan mengutamakan Tuhan kalau sikap hatinya benar. Misalnya, seseorang yang mempersembahkan banyak uang untuk kegiatan gereja atau misi belum tentu mengutamakan Tuhan, karena itu tergantung dari sikap hatinya.

Bagi orang yang terlatih mengutamakan Tuhan, maka irama hidupnya pasti selalu ingin mengutamakan Tuhan. Baginya ini adalah kebutuhan, bukan kewajiban. Ini sebagai menu kehidupan yang mutlak harus terselenggara. Kehidupan ini menjadi manis ketika seseorang mengerti bagaimana mengutamakan Tuhan.

SUDAHKAN ANDA MENGUTAMAKAN TUHAN DALAM HIDUPMU?