BAIK MENURUT TUHAN

Sebaik apa yang Anda inginkan? Sebaik itulah yang bisa Anda capai. Pernyataan ini ternyata bisa dijadikan jembatan untuk memahami kehidupan Kristiani yang benar yang harus dijalani. Pencapaian prestasi abadi kehidupan seseorang ditentukan oleh pemahamannya mengenai apa yang baik. Dari apa yang dipahami mengenai kebaikan, maka ia akan mengarahkan hidupnya ke sana. Dan untuk memahami apa yang baik seseorang memerlukan perjuangan yang serius, sebab pemahaman mengenai apa yang baik (menurut Tuhan) harus dikejar oleh manusia itu sendiri, bukan anugerah yang otomatis turun dari langit.

Dalam Mat. 19:16–26, Tuhan memperkarakan konsep mengenai apa yang baik. Kepada orang kaya yang menghendaki hidup kekal, Tuhan balik bertanya, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik?” Dari perkataan Tuhan tersebut Ia hendak mempersoalkan, apakah orang kaya itu mengerti apa yang dimaksud “baik” itu. Untuk memiliki suatu konsep yang benar mengenai apa yang baik, seseorang harus berjuang mengarahkan diri kepadanya. Dalam hal ini yang baik hanyalah Tuhan sendiri (ay. 17). Tentu selama ini bagi orang kaya itu yang baik adalah kekayaan (ay. 22). Pikirannya telah disita untuk itu. Tidak mengherankan, kalau ia tidak tahu apa yang baik, tidak mengenal Tuhan. Tuhan Yesus menegaskan bahwa ketidakbenaran mengenai Mamon (kekayaan) membuat seseorang tidak mengenal Tuhan atau kebenaran-Nya (Luk. 16:11).

Inilah kelicikan banyak hati manusia hari ini. Mudah saja orang mengatakan bahwa Tuhan itu baik, tetapi ia tidak memiliki pengertian yang benar mengenai Tuhan yang diakui baik tersebut. Pengertian “baik” yang dimiliki adalah baik menurut diri orang itu sendiri; baik yang menguntungkan dirinya. “Baik” yang sebenarnya tidak baik, malah sebaliknya merupakan sikap “kurang ajar terhadap Tuhan”. Sebab yang dipandangnya “baik” itu menjadi berhala: dianggap lebih bernilai daripada Tuhan. Buktinya, Tuhan dijadikan alat untuk meraihnya. Ia menganggap, jika Tuhan baik, pasti dapat disuruh memberikan “yang baik” menurut dirinya tersebut.

Untuk menanggulangi hal ini, tidak bisa tidak, kita harus mengalami perombakan pikiran, membongkar cara berpikir yang salah. Ini harus dilakukan secara bertahap dan terus-menerus dengan serius. Inilah yang akan mencelikkan mata pengertian kita terhadap apa yang baik, dan yang baik itulah yang akan menjadi tujuan hidup kita. Yang baik hanyalah Tuhan dan kehendak-Nya. Oleh sebab itu sebagai anak Tuhan, teruslah berusaha memahami Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Yang baik hanyalah Tuhan dan kehendak-Nya, karena itu kita harus berjuang mengarahkan diri kepada Pribadi dan kehendak-Nya.