Sungguh menyedihkan apabila seseorang merasa sudah mengikut Tuhan Yesus, padahal sesungguhnya belum. Apa kriteria atau ukuran atau tanda bahwa Saudara sudah mengambil keputusan mengikut Tuhan Yesus? Apakah karena saudara mengucapkan kalimat “Saya mengikut Engkau Yesus”, berarti saudara sudah mengikut Tuhan Yesus? Apakah datang ke gereja sama dengan mengikut Tuhan Yesus? Bila seseorang yang bergereja berarti mengikut Tuhan Yesus, berarti semua orang yang ke gereja masuk Surga dong? Tentu kita sepakat dan setuju, bahwa tidak semua orang ke gereja pasti masuk Surga. Ini berarti bahwa tidak semua orang yang ke gereja adalah pengikut Tuhan Yesus. Pertanyaannya, sudahkah kita termasuk pengikut Tuhan Yesus yang sejati?
Ini harus kita persoalkan dengan serius, agar jangan sampai saat bertemu dengan Dia, Ia berkata, “Aku tidak mengenal kamu!” (Mat. 7:23; 25:12). Untuk ini kita harus sungguh-sungguh serius memeriksa diri. Status sebagai orang Kristen hendaknya tidak menipu diri kita dengan merasa sudah menjadi pengikut Kristus, padahal belum.
Coba renungkan, seandainya kita menjadi Tuhan Yesus, pantaskah sosok seperti diri kita ini kita terima sebagai pengikut?
Seberapa jauhkah langkah hidup kita meneladani cara hidup-Nya?Seberapa giatkah pembelaan kita kepada-Nya?
Seberapa setiakah kita mentaati-Nya?
Kalau kita memperhatikan oknum-oknum teroris yang rela mengorbankan segala sesuatu demi apa yang diyakini mereka sebagai langkah pantas sebagai seorang pengikut, apakah kita telah memiliki keberanian atau kenekatan seperti itu? Ini bukan berarti kita berbuat sama seperti mereka, tetapi keberanian dan kesetiaan mereka itulah yang harus kita pertimbangkan.
Seberapa jauhkah langkah hidup kita meneladani cara hidup-Nya?Seberapa giatkah pembelaan kita kepada-Nya?
Seberapa setiakah kita mentaati-Nya?
Kalau kita memperhatikan oknum-oknum teroris yang rela mengorbankan segala sesuatu demi apa yang diyakini mereka sebagai langkah pantas sebagai seorang pengikut, apakah kita telah memiliki keberanian atau kenekatan seperti itu? Ini bukan berarti kita berbuat sama seperti mereka, tetapi keberanian dan kesetiaan mereka itulah yang harus kita pertimbangkan.
Jika sejatinya memang kita belum menjadi pengikut Tuhan Yesus, marilah kita mengambil keputusan saat ini juga. Atau barangkali kita sudah mengikut-Nya, tetapi perlu memperbarui (update) pengiringan kita. Bukan tidak mungkin kita telah menyimpang dari jalan seorang pengikut yang baik. Dalam hal ini yang dibutuhkan bukan ucapan, tetapi tindakan (Mat 21:28–31).
Banyak orang merasa sudah mengambil keputusan hanya dengan perkataan, tetapi tindakannya tidak membuktikan bahwa dirinya memang pengikut Yesus. Abraham tidak akan disebut sebagai orang beriman, dan tidak akan disebut Sahabat Allah kalau ia hanya berkata, “Ya Allah, aku bersedia mengurbankan anakku”, tetapi tidak benar-benar naik ke bukit Moria untuk mempersembahkan anaknya, Ishak (Yak 2:20–24).