MEROMBAK CARA BERPIKIR

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Mat. 19:23)

Dalam Mat. 19:16-26 dikisahkan mengenai orang kaya yang sukar masuk Surga. Mengamati kisah tersebut timbullah pertanyaan, mengapa orang kaya sukar masuk Surga? Jawabannya ialah, sebab ia telah memiliki konsep mengenai kenikmatan atau kebahagiaan hidup dan nilai-nilai kehidupan yang telah membelenggu kehidupannya selama bertahun-tahun. Konsep dan nilai-nilai tersebut telah menyatu dalam hidupnya. Baginya, yang paling bernilai adalah harta (ay. 22). Kenikmatan hidup hanyalah di bumi ini, hari ini. Tidak terpikirkan adanya kenikmatan hidup untuk hal lain dan di dunia lain. Merombak konsep berpikir ini dari kesalahan hingga benar-benar mengingini Tuhan dan Kerajaan-Nya merupakan sesuatu yang benar-benar tidak mudah.

Kalau dalam pikiran seseorang yang paling berharga adalah uang, maka ia selalu berhasrat menjadi orang kaya. Ia mengarahkan diri untuk meraih jumlah kekayaan yang harus dimiliki supaya pantas disebut sebagai orang kaya. Demikian pula kalau seseorang menganggap yang berharga adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka ia ingin menjadi seperti Tuhan dan tinggal di dalam Kerajaan-Nya. Sebaik apa yang kita pahami mengenai Tuhan dan Kerajaan-Nya akan membuat kita mengarahkan diri kepada hal tersebut. Jadi kalau seseorang tidak mengenal Tuhan dengan baik, maka ia tidak pernah menjadi baik seperti yang Tuhan kehendaki.

Apabila kita mengisi hari hidup kita dengan kegiatan dalam lingkungan gereja atau bahkan melayani pekerjaan Tuhan, tetapi pengertian kita mengenai nilai-nilai kehidupan masih belum diubah, maka semua kegiatan tersebut tidak berdampak banyak, bahkan kadang-kadang sia-sia. Dalam perumpamaan tentang penabur, seperti benih yang ditabur di semak duri (Mat. 13:22). Benih itu memang tumbuh, tetapi karena semak duri yang adalah percintaan dunia, maka benih itu tidak tumbuh. Benih yang tumbuh adalah benih yang ditabur di tanah yang baik (Mat. 13:23), yaitu hati yang menerima Firman tanpa percintaan dunia sehingga mengerti kebenaran Firman Tuhan dan berbuah.