Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” (Luk. 13:24)
Berulang-ulang Tuhan Yesus menyatakan bahwa sulit sekali seseorang untuk masuk Kerajaan Surga. Kesulitan itu terletak pada dibutuhkannya perjuangan yang harus dilakukan untuk masuk ke dalamnya. Jangan karena keselamatan itu “serba anugerah” lantas dikesankan bahwa masuk Surga itu mudah, tidak perlu ada perjuangan. Seolah-olah dengan mengaku percaya kepada Yesus lalu rajin ke gereja, seseorang otomatis akan bergulir ke Surga.
Pengajaran mengenai anugerah yang salah telah membuat banyak orang tidak bertanggung jawab atas hidupnya. Pengajaran yang salah ini disebabkan oleh ketidakpahaman terhadap apa yang dimaksud dengan iman itu. Iman adalah tindakan (Yak. 2:26), bukan sekadar persetujuan pikiran atau pengaminan akali. Kata “berjuanglah” dalam teks aslinya ditulis agonizesthe, dari kata agonizomai yang bisa diterjemahkan “berjuang”, “bergumul”, “berusaha keras”, “berusaha sekuat-kuatnya”. Seiring berjalannya waktu, kata ini kemudian menjadi kata agonize dalam bahasa Inggris, yang berarti “mengalami penderitaan yang sangat berat, baik fisik ataupun mental”, “menderita kesakitan yang amat sangat”. Kata ini menunjukkan suatu pergumulan yang tidak ringan. Kita harus berusaha memahami Alkitab, bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, berdoa dengan benar, memikul salib kita sendiri, dan menempuh berbagai kesulitan lainnya.
Yang perlu dipertanyakan sekarang adalah, mengapa dalam hidup banyak orang Kristen dewasa ini tidak ada perjuangan untuk masuk Kerajaan Surga? Tidak adanya perjuangan dalam hidup seseorang disebabkan oleh ketiadaan niat yang kuat. Mereka tidak memiliki niat yang kuat untuk masuk Surga, karena telah terkontaminasi oleh berbagai niat atau hasrat memenuhi hati dan pikiran. Untuk membuang niat yang mencemari pikiran ini, kita harus mengalami pembaruan pikiran oleh kebenaran Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Kalau pikiran kita tidak dipenuhi oleh kebenaran Firman Tuhan, maka filsafat dunialah yang memenuhinya (materialisme, humanisme, hedonisme, dan lain sebagainya). Jadi sebagaimana satu-satunya jalan mengusir kegelapan adalah menyalakan terang, demikian pula satu-satunya jalan untuk mengusir pikiran yang salah adalah pikiran yang benar.