KELUARGA ALLAH (4)

MENJALANI KEHIDUPAN BERSAMA-SAMA


Kamu masing-masing adalah bagian dari tubuh Kristus, dan kamu dipilih untuk hidup bersama dalam damai sejahtera. Kolose 3:15 (CEV)

Allah memaksudkan kita menjalani kehidupan bersama-sama. Persekutuan yang sesungguhnya jauh lebih dari sekadar muncul pada kebaktian. Persekutuan yang sesungguhnya adalah menjalani kehidupan bersama-sama. Persekutuan termasuk mengasihi dengan tidak mementingkan diri sendiri, berbagi pengalaman dengan jujur, melayani secara praktis, memberi dengan berkorban, menghibur dengan penuh simpati, dan semua perintah "saling" lainnya yang terdapat di dalam Perjanjian Baru. Hal ini tampak dalam kehidupan jemaat mula-mula.

Tubuh Kristus, seperti tubuh kita sendiri, benar-benar merupakan kumpulan dari banyak sel kecil. Kehidupan Tubuh Kristus, seperti tubuh kita, terkandung dalam sel-sel itu. Karena alasan ini, semua orang Kristen perlu terlibat di dalam sebuah kelompok kecil di dalam gereja mereka, entah itu kelompok persekutuan rumah, sebuah kelas Sekolah Minggu, atau sebuah pendalaman Alkitab. Di sinilah suatu persekutuan yang sesungguhnya berlangsung, bukan di dalam perkumpulan besar.

Sayangnya, berada di dalam sebuah kelompok kecil sekalipun tidak menjamin bahwa kita akan mengalami persekutuan yang sesungguhnya. Banyak kelompok kecil terjebak dalam kedangkalan dan tidak memiliki petunjuk tentang bagaimana rasanya mengalami persekutuan yang sejati. Apa perbedaan antara persekutuan yang sejati dan yang palsu?

1. Dalam persekutuan yang sejati, orang mengalami otensitas.
Persekutuan yang otentik bukan obrolan basa-basi yang dangkal. Persekutuan tersebut merupakan tindakan berbagi pengalaman secara sungguh-sungguh dari hati ke hati, kadang-kadang sampai tingkat yang paling dalam. Persekutuan yang otentik terjadi ketika orang-orang bersikap jujur mengenai siapa mereka dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka menceritakan luka-luka hati mereka, menyatakan perasaan-perasaan mereka, mengakui kegagalan-kegagalan mereka, mengungkapkan kebimbangan mereka, mengakui ketakutan mereka, mengakui kelemahan mereka, dan meminta bantuan serta doa.

Tentu saja, bersifat otentik membutuhkan baik keberanian maupun kerendahan hati. Ini berarti menghadapi ketakutan kita terhadap keterbukaan, penolakan, dan sakit hati. Mengapa orang perlu mengambil resiko semacam itu? Karena itulah satu-satunya cara untuk bertumbuh secara rohani dan sehat secara emosional. Alkitab mengatakan, "Lakukan ini sebagai sesuatu yang biasa: Hendaklah kamu saling mengaku dosa dan saling mendoakan sehingga kamu bisa hidup bersama dengan sehat dan sembuh" (Yak. 5:16a [Msg]). Kita hanya bertumbuh dengan cara mengambil risiko, dan risiko yang paling sulit dari semuanya adalah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain.

2. Dalam persekutuan yang sejati orang-orang mengalami kebersamaan.
Kebersamaan adalah seni memberi dan menerima. Ini berarti saling bergantung. Kebersamaan adalah inti persekutuan: membangun hubungan timbal balik, berbagi tanggung jawab, dan saling membantu. Kita semua lebih konsisten di dalam iman kita bila orang lain berjalan bersama kita dan memberi kita dorongan. Kita tidak bertanggung jawab atas semua orang di dalam Tubuh Kristus, tetapi kita bertanggung jawab kepada mereka. Allah ingin kita melakukan apapun semampu kita untuk membantu mereka.

3. Dalam persekutuan yang sejati orang-orang mengalami simpati.
Simpati adalah masuk dan turut merasakan penderitaan orang lain. Sekarang beberapa orang menyebutnya "empati", tetapi kata yang alkitabiah adalah "simpati." Simpati memenuhi dua kebutuhan dasar manusia: kebutuhan untuk dipahami dan kebutuhan agar perasaan-perasaan kita diterima. Masalahnya adalah bahwa kita seringkali begitu tergesa-gesa membereskan berbagai hal sehingga kita tidak memiliki waktu untuk bersimpati terhadap orang lain. Atau kita dipenuhi oleh luka-luka batin kita sendiri. Rasa mengasihani diri sendiri mengeringkan simpati kita bagi orang lain.

Ada tingkat-tingkat yang berbeda dari persekutuan, dan masing-masing tingkat cocok untuk segala waktu. Tingkat paling sederhana dari persekutuan adalah persekutuan untuk berbagi pengalaman dan persekutuan untuk mempelajari Firman Allah bersama-sama. Tingkat yang lebih dalam adalah persekutuan untuk melayani, seperti ketika kita melayani bersama-sama dalam perjalanan misi atau pelayanan kasih. Tingkat yang paling dalam dan kuat adalah persekutuan dalam penderitaan, dimana kita masuk ke dalam setiap penderitaan dan dukacita orang lain dan saling menanggung beban. Orang-orang Kristen yang memahami tingkat ini dengan sangat baik adalah orang-orang di seluruh dunia yang dianiaya, dianggap hina, dan sering kali dibunuh sebagai martir karena iman mereka.

4. Dalam persekutuan yang sejati orang-orang memperoleh belas kasihan.
Persekutuan adalah tempat kasih karunia, dimana kesalahan tidak diungkit-ungkit tetapi dihapuskan. Persekutuan terjadi ketika belas kasihan menang atas keadilan. Kita perlu saling memberikan belas kasihan dan bersedia menerimanya dari orang lain. Kita tidak bisa memiliki persekutuan tanpa pengampunan, karena kebencian dan dendam selalu menghancurkan persekutuan.

Banyak orang enggan menunjukkan belas kasihan karena mereka tidak paham perbedaan antara kepercayaan dan pengampunan. Pengampunan adalah melepaskan masa lalu. Kepercayaan berkaitan dengan perilaku masa depan. Pengampunan haruslah segera, entah seseorang memintanya atau tidak. Kepercayaan harus dibangun kembali bersama waktu. Kepercayaan membutuhkan catatan kinerja. Jika seseorang melukai Anda berulang-ulang, Anda diperintahkan oleh Allah untuk mengampuninya segera, tetapi Anda tidak diharapkan untuk mempercayai mereka segera, dan Anda tidak diharapkan untuk terus membiarkan mereka melukai hati Anda. Mereka harus membuktikan bahwa mereka telah berubah bersama waktu.
Untuk direnungkan:
  1. Sudahkah saya terlibat dalam persekutuan selama ini? Menjalani kehidupan bersama-sama dengan orang percaya lainnya atau malah menjauhkan diri dari persekutuan?
  2. Sudahkah saya ikut dalam kelompok kecil? Jika belum, kenapa? Jika sudah, apakah saya menikmatinya dan merasakan manfaatnya dalam kehidupan saya? Bagaimana kondisi kelompok kecil saya saat ini?
  3. Sudahkah saya mengalami persekutuan yang sejati? Jika tidak, kenapa dan apa yang harus saya lakukan?
  4. Sudahkah saya sampai pada tingkat paling dalam dan kuat dalam persekutuan? Atau saya sekarang berada pada tingkat berapa? Apakah saya mau berkomitmen untuk terus bertumbuh dalam persekutuan sampai saya benar mengalami persekutuan yang dalam dan kuat itu?
  5. Sudahkah saya benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain? Atau selama ini, aku hanya seseorang yang egois?
  6. Bagaimana relasi saya dengan orang lain selama ini? Jika dia berbuat salah, sudahkah saya mengampuninya? Bagaimanakah perlakuanku kepadanya saat ini?
Ayat untuk diingat: "Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2)