Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.
(1 Raja-raja 3:28)
Saya akan menceritakan humor lawas. Meski lawas, tapi makna yang terkandung di dalamnya masih relevan. Seorang pendeta memberi nasihat kepada penginjil muda yang akan memulai misinya di ladang pelayanan baru. "Hati-hatilah di negeri orang. Kamu harus pandai bergaul supaya banyak memenangkan jiwa. Kalau kamu bertemu dengan tukang tahu, bicaralah soal tahu. Jika bertemu dengan tukang lontong, bicaralah soal lontong, dan jika bertemu dengan tukang sayur, bicaralah soal sayur. Rupanya penginjil muda tersebut cukup kritis, sehingga dia bertanya sekaligus "mencobai" pendeta tersebut, "Bagaimana jika bertemu dengan ketiganya, Pak Pendeta?" Dengan penuh hikmat, pendeta tersebut menjawab, "Bicaralah soal gado-gado, Nak."
Yesus sering diperhadapkan dengan situasi serba sulit. Hanya ada dua pilihan, yang mana Dia harus mengambil salah satu di antara dua pilihan tersebut. Jika Yesus memilih yang satu dan mengabaikan yang lain, maka orang Farisi yang ingin menjebak-Nya punya alasan untuk menjatuhkan-Nya. Namun Yesus tidak terjebak dengan niat jahat mereka. Meski yang disodorkan hanyalah pilihan A atau B dan seolah tidak ada kemungkinan lain. Yesus selalu punya alternatif jawaban lain. Dengan kata lain, Yesus selalu bisa keluar dari jebakan itu dengan jawaban sangat cantik.
Dalam bahasa populer itulah yang disebut thinking out of the box, atau berpikir di luar kotak. Dalam bahasa rohani, itulah hikmat Tuhan! Kita butuh hikmat seperti itu dalam menjalani kehidupan. termasuk dalam dunia pekerjaan. Ketika kita diperhadapkan situasi yang dilematis, bahkan tidak ada pilihan lain, mintalah hikmat Tuhan supaya Dia menuntun kita keluar dari situasi dilematis itu dengan solusi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Persis seperti ketika Salomo harus memberi putusan yang adil terhadap dua orang ibu yang masing-masing mengaku bayi tersebut adalah anaknya. Keputusan Salomo tersebut tidak pernah dibayangkan oleh siapapun juga, yang bisa menyelesaikan masalah dengan sangat cantik. Sebagaimana Tuhan mengaruniakan hikmat kepada Salomo, kiranya kita pun dipenuhi dengan hikmat Allah. [Petrus Kwik)
Dalam mengambil keputusan yang dilematis, mintalah hikmat Tuhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar