Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. (Pengkhotbah 5 :9)
Banyak orang mengalami stres karena berbagai sebab. Kita sering membayangkan penyebab stres adalah kegagalan, kemiskinan, dsb. Tapi nyatanya banyak orang yang sedang ada di puncak sukses dan bergelimang harta pun mengalami stres. Banyak selebritis yang sedang di puncak kariar justru bunuh diri atau mencandu narkoba karena depresi dan stres. Banyak jutawan mengalami insomnia kecemasan, mengidap penyakit akibat stres, mengisolasi diri, atau mengalami kecanduan karena ingin melarikan diri dari kenyataan (padahal dalam kenyataan, dia sukses dan kaya raya!).
Inilah paradoks kehidupan tapi juga menunjukkan kebenaran firman Tuhan hari ini. Memiliki segala sesuatu pun akan sia-sia belaka jika Tuhan tidak memberinya kuasa untuk menikmatinya (Pkh, 6:2) Perumpamaan Yesus setali tiga uang. Sementara si orang kaya berpikir ia akan beristirahat menikmati hartanya, ternyata Tuhan justru mengambil nyawanya. Maka, Pengkhotbah 5:9 mengingatkan bahwa orang yang mencintai uang tak akan puas dengan uang dan siapa yang mencintai kekayaan tak akan puas dengan penghasilannya. Salomo yang amat kaya itu menunjukkan beberapa kemalangan orang kaya. Bahwa makin kaya, orang juga harus memelihara makin banyak orang, bahwa orang kaya akan jadi lebih sulit tidur karena dibelit berbagai pikiran dan kekhawatiran, bahwa kekayaan bisa dengan cepat hilang, bahkan kekayaan itu juga tak akan kita bawa begitu kita mati (ay. 10-15).
Mencintai tapi tak puas dengan yang dicintai. Berlimpah tapi tak puas dengan yang dimiliki. Memiliki tapi tak bisa menikmati bahkan justru selalu khawatir kehilangan. Itulah kesia-siaan kekayaan. Bukan kekayaannya yang salah, bukan status sebagai orang kaya yang jadi masalah, bukan berarti juga kita tak boleh kaya, tapi bagaimana sikap kita terhadap kekayaan itulah sebabnya. Jika hidup kita hanya dihabiskan untuk mengejar kekayaan, ingat bahwa mengejar kekayaan tak ada batasnya. Kekayaan yang tak kekal juga hanya akan menghabiskan energi serta waktu kita. Jadi, lihat kekayaan dengan cara yang benar. Lihat itu sebagai berkat Allah, pandang kekayaan sebagai cara Allah agar kita bisa menolong orang lain, itulah yang membuat hidup dan kekayaan kita tidak sia-sia. Amin? ARC
Hidup hanya untuk mengejar kekayaan membuat kita tidak pernah puas dengan hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar