Mengapa Iri?


Aku tahu juga bahwa manusia bekerja begitu keras, hanya karena iri hati melihat hasil usaha tetangganya. Semua itu sia-sia belaka seperti usaha mengejar angin.
Pengkhotbah 4:4 (BIS)

Seorang pemuda berjalan sendiri di satu lorong. Tiba-tiba muncul seseorang dari belakangnya dan dengan cepat berjalan mendahuluinya. Tak lama, beberapa orang lain juga muncul dari belakang dan berjalan mendahuluinya. Beberapa bahkan mendahului sambil menatap si pemuda dengan sinis, itu terus terjadi, bisa tebak apa yang lalu terjadi? Si pemuda pasti akan ikut mempercepat langkahnya la tak akan suka terus didahului dan seolah dianggap lambat. Padahal, ia tidak sedang buru-buru dan tidak menghalangi jalan orang lain juga. Tapi, bisa dibilang itulah sikap alami sebagian besar manusia

Orang kerap menyebutnya sikap kompetitif. Sikap kompetitif tidak buruk, bahkan baik karena par juara dan peraih prestasi pasti memilikinya. Namun, tidak semua sikap kompetitif baik. Pengkhotbah hari ini menyoroti fenomena saat segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah hati seseorang terhadap yang lain" (Pkh. 4:4). Bekerja keras hanya karena in melihat keberhasilan orang lain, bukankah itu banyak terjadi? Bahkan, banyak juga orang yang rela menempuh cara-can berdosa hanya karena ini dengan milik orang lain atau supaya dirinya tidak diremehkan orang lain.

Namun, Pengkhotbah mengingatkan bahwa itu pun sia-sia. Menghabiskan waktu, energi, dan pikiran kita hanya supaya kita tidak tertinggal dari orang lain atau hanya karena kita ingin jadi seperti orang lain, untuk apa? Alih-alih melihat keberhasilan orang lain dengan rasa ini dan mengingini, kenapa kita tidak melihat keberhasilan orang lain sebagai bukti janji Allah bahwa memang siapa yang mau bekerja akan mendapatkan hasil (Ams. 12:11, 14:23, 2 Kor 9:6). Lihatlah juga apa yang sudah Tuhan ber pada kita dan bersyukurlah (Ibr. 13:5). Tak usah membandingkan milik kita dengan milik orang lain karena itu akan membuka celah kepada dosa (Kel. 20:17). Apalagi jika yang kita ingini adalah hasi kerja yang tidak jujur dari orang lain, karena Tuhan pasti akan bertindak menghukum mereka yang meraih sesuatu dengan cara tidak benar (Mzm 37:7-9) Semoga renungan ini bisa mengingatkan kita untuk tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita dalam iri hati. Karena hidup dalam rasa syukur jauh lebih indah daripada hidup dengan ini hati. -ARC-

Hidup dalam rasa syukur lebih indah dari hidup dengan rasa ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar