"Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi
jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah."(Kisah Para Rasul 12:5)
Apakah anda mengenal gembala anda?
Jika anda sudah cukup lama bertumbuh di gereja anda, tentu anda mengenal siapa
gembala anda minimal mengetahui namanya. Sepintas menjadi gembala mungkin
terlihat menyenangkan. Mereka terkenal, dihormati dan disegani banyak orang.
Tetapi di balik itu semua, beban tugas mereka jauh lebih besar dari sekedar
mendapatkan popularitas. Lihat saja berapa banyak jemaat yang harus mereka
tuntun? Puluhan, ratusan bahkan bisa mencapai ribuan. Dan kita baru berbicara
soal jumlah. Jemaat-jemaat punya masalah yang berbeda-beda, dan mungkin tidak
hanya satu. Bagaimana dengan kehidupan mereka di luar tugas sebagai gembala?
Gembala juga punya keluarga yang harus diurus. Istri, anak, orang tua, saudara, semua
itu seringkali membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak sedikit. Bagi para
gembala yang tidak full time, mereka pun masih harus bekerja sehari-hari
seperti kita juga. Belum lagi harus mengurus perkembangan dan pertumbuhan
gerejanya dan memimpin berbagai jawatan di gereja termasuk menjangkau jiwa-jiwa
di luar sana. Lihatlah bagaimana sulitnya menjadi gembala. Waktu mereka bisa
begitu tersita, sehingga mereka mungkin harus mengorbankan waktu-waktu
berkumpul bersama anggota keluarga. Sekuat-kuatnya manusia, ada saat dimana
kita menyentuh titik lemah. Kecapaian, sakit, kehilangan gairah atau semangat
dan sebagainya. Kelelahan saja bisa membuat orang kehilangan banyak hal. Sulit
konsentrasi, kehilangan
semangat atau gairah, juga bisa membuat orang jatuh sakit. Sekuat-kuatnya
gembala kita, sehebat-hebatnya mereka, mereka tetaplah manusia yang sama
seperti kita. Manusia yang terbatas, manusia yang lemah dan rentan. Mereka
terus mendoakan kita para jemaat yang bertumbuh di bawah kepemimpinan mereka.
Apakah kita sudah berbuat yang sama untuk mereka? Sudahkah kita mendoakan
gembala kita?
Dalam Kisah Para Rasul 12:1-19
tertulis kisah ketika Herodes mulai bertindak kejam terhadap orang percaya. Ia
memerintahkan kepada algojo untuk membunuh Yakobus, dan Yakobus pun tewas sebagai
martir. Demi melihat perilaku jahatnya ternyata disukai orang Yahudi, maka ia
pun ketagihan melanjutkan perbuatannya dengan menahan Petrus. Petrus pun
ditangkap. Apa yang akan terjadi atas diri Petrus sudah jelas. Hukuman mati
tentu akan dijatuhkan kepadanya seperti halnya kepada Yakobus. Tapi untunglah
hari itu jatuh kepada Hari raya Roti Tidak Beragi, sehingga Petrus tidak
langsung diadili untuk kemudian dieksekusi. Sebagai gantinya, Petrus
dijebloskan kepenjara dan dijaga oleh 4 regu dengan 4 prajurit pada
masing-masing regu. Enam
belas orang menjaga satu orang. Mengapa? Karena Herodes tidak ingin ada apa-apa
terjadi pada Petrus sebelum eksekusi dijatuhkan. Tapi lihatlah apa yang terjadi
selanjutnya. "Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi
jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah." (Kisah Para Rasul 12:5). Jemaat yang dipimpin Petrus
ternyata tidak tinggal diam. Mereka berkumpul dan terus menerus berdoa tanpa
henti bagi Petrus. Kemudian keajaiban terjadi. "Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat
Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk
Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka
gugurlah rantai itu dari tangan Petrus." (ay 7). Tuhan mendengar doa para jemaat dan mengutus
malaikat untuk melepaskan Petrus. Petrus pun segera mengikuti malaikat itu
meski masih bingung tentang apa yang sedang terjadi, apakah itu nyata atau cuma
mimpi. Baru setelah sampai di luar di tempat yang aman dan malaikat itu
meninggalkannya, ia baru sadar mengenai apa yang terjadi. "Dan setelah sadar akan
dirinya, Petrus berkata: "Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan
telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari
segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi." (ay 11).
Lihatlah betapa hebatnya kuasa doa.
Lewat Yakobus kita mengetahui bahwa "Doa orang
yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16). Ada banyak orang yang mengira bahwa doa
yang dijawab hanyalah doa para pemimpin rohani, gembala, hamba Tuhan dan
beberapa orang saja. Mereka menganggap bahwa doa mereka tidak akan manjur
karena mereka hanyalah jemaat biasa. Tapi dari kisah di atas kita tahu itu
keliru. Doa jemaat pun dikabulkan Tuhan. Firman Tuhan tidak berkata bahwa hanya
doa gembala atau pengerja yang didengarkan, tapi juga orang biasa, dengan
syarat orang itu harus benar. Doa yang dipanjatkan orang benar, siapapun
mereka, itu besar kuasanya. Seperti itulah sesungguhnya kekuatan doa. Jadi
tidak peduli siapapun kita, meski hanya jemaat biasa, selama kita hidup dengan benar, tidak ada yang perlu
diragukan dengan kekuatan kuasanya. Dari kisah di atas, kita bisa melihat
betapa cepatnya Tuhan bekerja lewat doa para jemaat. Tuhan tidak menunggu doa
mereka selesai terlebih dahulu untuk melakukan mukjizat, tapi itu terjadi
ketika mereka masih terus bertekun berdoa. Dengan jelas hal ini terlihat dalam
ayat berikut: "Dan
setelah berpikir sebentar, pergilah ia (Petrus) ke rumah Maria, ibu Yohanes
yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa." (Kis.12:12).
Dari kisah ini kita juga bisa melihat
betapa pentingnya mendoakan para gembala, pengerja dan semua pemimpin di gereja
anda. Tugas yang mereka emban sesungguhnya sangatlah berat. Mereka dengan tekun
selalu mendoakan anda para jemaat dan melayani anda dengan sebaik-baiknya di
samping kesibukan mengurus keluarga dan bekerja yang harus pula mereka
jalankan. Mereka tekun mendoakan anda, sudahkah anda balik mendoakan mereka
dengan tekun pula? Seringkali kita hanya mau didoakan tapi tidak mau mendoakan
dan lupa bahwa kita pun mempunyai tugas untuk mendoakan para pemimpin. Faktanya
ada banyak jemaat yang lebih memilih untuk pulang terlebih dahulu ketimbang
terkena macet ketika doa syafaat
untuk mendoakan para gembala dan pimpinan gereja dipanjatkan sebelum ibadah
raya berakhir. Tuhan mengajarkan kita untuk saling mendoakan (Yakobus 5:16), termasuk pula
didalamnya mendoakan para pemimpin. (1Tim. 2:1-2). Firman Tuhan mengatakan bahwa "Itulah yang baik dan yang
berkenan kepada Allah, Juruselamat kita". (ay 3). Tidak hanya itu saja, tapi kita pun dituntut untuk
taat kepada mereka. Tidak terus menentang dan membangkang, sehingga pekerjaan
mereka yang sudah sulit bisa menjadi jauh lebih sulit lagi. Jika kita bersikap
demikian, pada akhirnya kita sendiri juga yang akan rugi. Ini pun sudah
diingatkan kepada kita. "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada
mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus
bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan
gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan
bagimu." (Ibrani 13:17).
Ingatlah bahwa para gembala dan
pemimpin gereja, para pengerja dan orang-orang yang selalu melayani anda adalah
manusia juga sama seperti anda. Sekuat-kuatnya dan sehebat-hebatnya mereka, ada
saat-saat dimana mereka lemah. Tekanan-tekanan cukup besar menimpa mereka
setiap saat. Timbunan pekerjaan dan pelayanan bisa membuat mereka jatuh sakit,
kehilangan semangat, kecapaian, kejenuhan bahkan jatuh sakit. Di saat-saat
seperti ini anda bisa berperan. Doakan dan dukung mereka agar Tuhan selalu
menguatkan mereka dan menambah-nambahkan hikmat atas mereka. Alangkah indahnya
hubungan dalam gereja yang terdapat saling doa diantara para pemimpin dan
jemaatnya. Paulus menyadari pentingnya doa para jemaat bagi pemimpin seperti dia. Lihatlah apa seruannya
kepada jemaat di Tesalonika.
"Saudara-saudara, doakanlah kami." (1Tes.5:25). Jika anda belum mendoakan gembala dan para
hamba Tuhan di gereja anda, ambillah waktu dan mulailah mendoakan mereka. Siapa
tahu, mungkin saat ini mereka sangat membutuhkan dukungan doa dari anda semua.
Mereka sudah dengan tekun terus mendoakan anda, para jemaat yang dikasihi Tuhan
secara rutin. Sekarang giliran kita untuk mendoakan mereka pula, meminta Tuhan
memberi kekuatan, perlindungan, kesehatan dan lain-lain agar mereka dapat tetap
menjalankan tugas berat mereka dalam keadaan baik. Gereja yang kuat sesungguhnya adalah gereja dimana
jemaat dan pemimpinnya saling mendukung untuk bertumbuh bersama-sama, termasuk
lewat saling mendoakan.
Saling mendoakan diantara elemen-elemen gereja akan
membuat pertumbuhan gereja menjadi semakin kuat dan baik