UCAPAN SYUKUR YANG MENETAP DI HATI


Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya. (Mazmur 118:1)

Melinda Beck, dalam artikel di The Wall Street Journal pada 23 November 2010, menyimpulkan hasil riset bertahun-tahun tentang dampak rasa bersyukur bagi kesehatan emosi dan tubuh. Menurutnya, orang dewasa yang bersyukur lebih punya energi, lebih optimis, lebih terlibat dalam relasi sosial, dan lebih berbahagia daripada mereka yang tidak bersyukur. Anak-anak yang bersyukur juga mendapatkan nilai yang lebih baik, menetapkan target yang lebih tinggi, merasa puas dengan keluarga, rekan, dan sekolah. Baik orang dewasa maupun anak-anak yang bersyukur lebih jarang mengeluhkan sakit kepala dan sakit perut. Pemazmur mengajak umat Tuhan untuk bersyukur atas kebaikan-Nya. Kebaikan Tuhan yang tak datang dan pergi, namun kebaikan yang berlangsung terus-menerus. Pemazmur ingin menegaskan bahwa landasaan untuk bersyukur adalah karakter atau sifat Tuhan yang penuh dengan kebaikan, bukan apa yang kita rasakan dan kita alami. Jika ungkapan syukur kita landaskan pada apa yang kita rasakan dan kita alami, rasa syukur itu akan datang dan pergi. Tidak menetap di hati. Tak selamanya dalam kehidupan ini kita dapat melihat dan merasakan bukti kebaikan Tuhan. Masalah, sakit-penyakit, dan pergumulan hidup dapat membuat kita bertanya-tanya tentang kehadiran dan kebaikan-Nya. Dalam kondisi seperti ini, bisakah iman kita pada kasih dan kebaikan Tuhan membuat kita bisa mengucapkan syukur? Syukur yang menetap di hati

SYUKUR YANG MENETAP DI HATI LAHIR DARI IMAN PADA KEBAIKAN DAN KEMURAHAN TUHAN