Tanpa disadari banyak orang merasa tertuntut untuk memiliki dan mengenakan gaya hidup yang dimiliki manusia di sekitarnya. Pertama gaya hidup yang orang tua wariskan melalui keluarga, kedua gaya hidup manusia di sekitarnya melalui pergaulan. Hal ini sudah seperti sebuah hukum atau kodrat yang tidak bisa dihindari. Secara otomatis hal tersebut terkondisi demikian. Memang hidup adalah proses meniru, mengadopsi (mengambil untuk dirinya) dan beradaptasi (menyesuaikan diri dengan keadaan). Siapa dan bagaimana diri seseorang adalah peta atau wajah dari lingkungannya. Pada dasarnya lingkungan hidup seperti ini sebuah pola bentuk cetakan yang membentuk sebuah hasil cetakan. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap individu adalah korban dari lingkungannya. Lingkungan atau dunia ini menjadi alat iblis yang ampuh mewarnai jiwa guna digiring menuju kegelapan abadi. Kalau orang percaya tidak waspada, maka bisa terseret pula.
Gaya hidup ini bukan saja menyangkut tindakan dan kebiasaan hidup yang kelihatan, tetapi cara berpikir (mindset) yang memotori segala keputusan dan tindakan seseorang. Seorang yang dibesarkan oleh sebuah keluarga di desa terpencil yang terbelakang dan tertutup tidak mungkin bergaya hidup seperti orang yang dibesarkan di kota. Hal ini sama dengan gaya hidup seorang yang dibesarkan dalam lingkungan fasik, tidak mungkin bisa bergaya hidup anak-anak Allah. Pada hal dunia ini sudah jatuh, gaya hidup manusia bernuansa memberontak dan melawan Allah. Manusia membangun kerajaannya sendiri, tidak mau tunduk pada pemerintahan Allah karena memiliki pemerintahan sendiri. Inilah kesalahan Lusifer yang jatuh. Ia tidak akan pernah bisa mengalahkan dan mengungguli Allah Bapa. Tetapi ia bisa membangun kerajaannya sendiri. Kerajaan yang tidak didominasi oleh Allah, sebuah kerajaan yang tidak mengenal isi Doa Bapa Kami: Datanglah Kerajaan-Mu. Dengan ini kita tahu, bahwa Tuhan Yesus bermaksud mengajarkan kepada kita agar kita hidup dalam kedaulatan pemerintahan Allah. Itulah sebabnya dengan tegas Tuhan Yesus berkata: Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Tuhan Yesus datang untuk menebus manusia dari cara hidup yang sia-sia yang diwariskan dari nenek moyang (1 Ptr. 1:18).Ini prinsip penting yang harus dialami setiap orang yang menerima Tuhan Yesus sebagai Penebusnya. Cara hidup yang sia-sia, artinya cara hidup yang akan binasa. Kata sia-sia adalah phthartos (φθαρτός) yang artinya sesuatu yang akan binasa atau fana (perishable, mortal). Injil atau kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan harus dapat mengubah gaya hidup yang sudah salah tersebut. Kalau dulu kita meniru lingkungan kita, sekarang meniru Tuhan Yesus.
Manusia tidak mau tunduk pada pemerintahan Allah karena memiliki pemerintahan sendiri. Inilah kesalahan Lusifer yang jatuh. (Truth)