PENGHARGAAN TERHADAP TUHAN

Gaya hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh cara memberi penghargaan atau nilai terhadap segala sesuatu, sebab berapa nilai yang diberikan kepada sesuatu, menentukan gaya hidup seseorang. Sejak seorang anak manusia melek, dunia sekitarnya telah menunjukkan dan mengajarkan bagaimana memberi penghargaan atau nilai terhadap segala hal. Segala hal tersebut antara lain meliputi kehormatan, kekayaan, pangkat, gelar, perhiasan, perasaan, penampilan dan lain sebagainya. Dengan demikian sejak kecil seseorang telah dididik memiliki gaya hidup seperti lingkungannya. Sekarang ini kita hidup di sebuah tatanan ekonomi yang merangsang dan mendorong orang untuk berbelanja atau memiliki apa yang orang lain miliki. Hampir semua manusia disesatkan oleh filosofi hidup ini. Penghargaan atau nilai yang diberikan orang pada umumnya terhadap segala hal, seakan-akan menjadi nilai yang kita harus berikan juga. Padahal manusia yang sudah jatuh, kehilangan kemuliaan Allah dan tidak mengenal-Nya. Hal ini menyebabkan banyak orang memberi nilai secara tidak proporsional terhadap segala sesuatu. Seperti yang dapat dilihat pada umumnya, kalau untuk hal-hal dunia manusia memberi nilai yang tinggi, tetapi untuk hal-hal rohani atau Tuhan sendiri dan Kerajaan-Nya memberi nilai yang sangat rendah. Tanpa disadari banyak orang Kristen yang masih terbawa arus dunia ini. Cara mereka memberi nilai atau penghargaan terhadap sesuatu mengacu atau mengikuti standar pada nilai yang telah ditetapkan oleh dunia sekitarnya yang fasik. Hal inilah yang membelenggu orang percaya sehingga tidak bisa bertumbuh dalam kedewasaan rohani seperti Kristus.

Dengan nilai yang ditetapkan oleh dunia tersebut seseorang dituntut memiliki irama hidup seperti anak-anak dunia. Betapa sulitnya menurunkan harga atau nilai tersebut karena sudah mendarah daging. Rasanya mustahil untuk bisa berubah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa istri Lot menoleh ke belakang sebab ia masih memberikan nilai terhadap barang-barang yang ditinggalkan di Sodom. Demikian pula sebagian orang-orang Israel di padang gurun masih mengingat kenikmati hidup di Mesir, sehingga mereka bersungut-sungut. Contoh lain adalah orang kaya yang menginginkan hidup yang kekal tetapi tidak berani menjual seluruh hartanya untuk di bagikan kepada orang miskin sebab ia mencintai hartanya (Mat. 19:21-23).
Orang percaya harus meletakkan segala sesuatu pada proporsinya, Tuhan adalah tempat tertinggi dan yang lain hanya menunjang pelayanan bagi Tuhan. Jika tidak, berarti mereka tidak berniat sungguh-sungguh hendak memperoleh Kristus. Dalam hal ini keselamatan yang Tuhan sediakan harus diresponi dengan tanggung jawab. (Truth)