SUDAHKAH HIDUPMU MENYENANGKAN TUHAN?


Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu. (Mazmur 122:9)

“Hari ini yang kotbah di gereja X itu pendeta Y loh, dia kan lucu! Yuk kita ibadah di sana saja hari ini!” “Eh, gereja yang di pusat kota itu banyak artisnya loh!” “Kamu sudah pernah ibadah di megachurch yang satu itu belum?” Sering saya mendengar komentar semcam ini. Banyak orang pergi ke gereja dengan mental seorang penonton bioskop: mengharapkan hiburan rohani, mencari kesenangan untuk diri sendiri. Ketika pulang gereja, mereka biasa saling bertanya: Bagaimana tadi kotbahnya? Bagaimana ibadahnya, keren enggak?

Mazmur ini mengekspresikan kebahagiaan penulisnya ketika diajak ke rumah ibadah (ay. 1). Kegembiraan itu sudah berkobar dalam diri pemazmur ketika ia masih dalam pejalanan menuju Bait Allah di Yerusalem. Kebahagiaan pemazmur untuk ke beribadah bukan datang dari megahnya bangunan Bait Allah atau orang-orang hebat yang akan ditemuinya, tetapi karena kehadiran Allah di sana.

Manusia adalah makhluk hidup yang egois. Kita cenderung memandang segala sesuatu dalam hidup berputar di sekitar diri kita sendiri. Termasuk aktivitas ibadah, yang seharusnya berfokus pada Tuhan. Seorang rekan gereja pernah mengajari saya: dalam ibadah Minggu, kita bukanlah penonton. Jemaat, beserta pendeta, penatua, pemusik, dan seluruh pendukung ibadah adalah ‘aktor’ yang memainkan sebuah naskah penyembahan untuk Tuhan. Yang menjadi ‘penonton’ justru Tuhan. Dan kita semua adalah 'pemainnya'. Saatnya mengubah pola pikir kita! Fokus hidup ini adalah Tuhan, bukan diri kita sendiri.

TUJUAN IBADAH ADALAH UNTUK MENYENANGKAN HATI TUHAN, BUKAN MEMUASKAN DIRI KITA SENDIRI (olv-manna)