Tidak peduli apa yang aku katakan, apa yang aku yakini, dan apa yang aku lakukan, tanpa kasih aku gagal.
Karena Allah adalah kasih, pelajaran terpenting yang Dia ingin kita pelajari di dunia ini adalah bagaimana mengasihi. Belajar mengasihi tanpa mementingkan diri sendiri bukan pekerjaan yang mudah. Hal ini bertentangan dengan sifat kita yang mementingkan diri sendiri.
Tentu saja Allah ingin agar kita mengasihi setiap orang, tetapi Dia 'terutama' ingin agar kita belajar mengasihi sesama anggota keluargaNya. Mengapa Allah mendesak kita untuk memberikan kasih dan perhatian yang khusus kepada sesama orang percaya? Mengapa mereka mendapatkan prioritas dalam kasih? Karena Allah ingin keluarga-Nya dikenal melalui kasihnya lebih dari melalui hal lainnya.
Allah ingin agar kita berada dalam persekutuan yang akrab dan terus-menerus dengan sesama orang percaya sehingga kita bisa mengembangkan keterampilan mengasihi. Kasih tidak bisa dipelajari dalam keterasingan. Kita harus berada di sekitar orang-orang, yaitu orang-orang yang menjengkelkan, yang tidak sempurna, dan yang mengecewakan. Melalui persekutuan, kita belajar tiga kebenaran penting.
(1) Kehidupan paling baik dijalani dengan kasih
Kasih bukanlah bagian yang baik dari kehidupan kita; kasih merupakan bagian terpenting. Dalam kehidupan kita, hubungan harus mendapatkan prioritas diatas segalanya. Mengapa?
Pertama, kehidupan tanpa kasih benar-benar tidak berharga. Hubungan, bukan prestasi atau penguasaan atas benda-benda, merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan. Jadi mengapa kita membiarkan hubungan kita mendapatkan hanya sedikit perhatian? Apa yang terpenting bagi Allah digantikan oleh apa yang mendesak. Kesibukan adalah musuh besar bagi hubungan. Kita dikuasai oleh pekerjaan mencari nafkah, melakukan tugas-tugas kita, membayar rekening-rekening, dan menyelesaikan berbagai hal seolah-olah tugas-tugas ini merupakan tujuan hidup. Bukan. Tujuan hidup adalah belajar mengasihi, yaitu mengasihi Allah dan sesama. Kehidupan tanpa kasih sama dengan nihil.
Kedua, Kasih akan berlangsung selamanya. Kasih itu kekal. Kasih meninggalkan suatu warisan. Bagaimana kita memperlakukan orang lain, bukan kekayaan atau keberhasilan kita, merupakan pengaruh yang paling bertahan lama, yang bisa kita tinggalkan di dunia. Ketika kehidupan di dunia akan berakhir, manusia tidak minta dikelilingi oleh benda-benda. Yang kita ingin ada di sekeliling kita adalah orang-orang, yakni orang-orang yang kita kasihi dan yang dengan mereka kita memiliki hubungan.
Ketiga, Kita akan dievaluasi berdasarkan kasih kita. Allah mengukur kedewasaan rohani adalah dengan kualitas hubungan kita. Allah akan meninjau bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
(2) Pernyataan kasih terbaik adalah waktu
Pentingnya sesuatu bisa diukur dari berapa banyak waktu yang dengan rela kita investasikan didalamnya. Semakin banyak waktu yang kita berikan untuk sesuatu, semakin besar kita menunjukkan pentingnya dan nilainya bagi kita. Kita bisa membuat lebih banyak uang, tetapi kita tidak bisa membuat lebih banyak waktu. Ketika kita memberi seseorang waktu kita (meluangkan waktu buatnya), kita sedang memberi mereka satu bagian dari kehidupan kita yang tidak akan pernah kita dapatkan kembali.
Inti dari kasih bukanlah apa yang kita pikirkan atau kerjakan atau berikan kepada orang lain, melainkan seberapa banyak kita memberikan diri kita sendiri. Pemberian karena kasih yang paling diinginkan bukanlah permata atau bunga mawar atau coklat, melainkan Perhatian yang terfokus. Anda bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi Anda tidak mungkin mengasihi tanpa memberi (You can give without love, but you can not love without give). Kasih berarti memberi, yaitu menyerahkan kesenangan, kenyamanan, sasaran, rasa aman, uang, tenaga, atau waktu saya demi kebaikan orang lain.
(3) Waktu terbaik untuk mengasihi adalah sekarang
Mengapa harus sekarang? Karena kita tidak akan pernah tahu berapa lama kita memiliki kesempatan itu. Keadaan berubah. Orang-orang meninggal. Anak-anak bertumbuh. Kita tidak memiliki jaminan tentang hari esok. Jika kita ingin mengekspresikan kasih, kita sebaiknya melakukannya sekarang. Seringkali, nasi sudah menjadi bubur, artinya penyesalan selalu datang terlambat. Kita baru sadar dan menyesal karena tidak mengungkapkan kasih kita kepada seseorang sebelumnya. Misalnya orang yang akan kita kasihi itu meninggal, sementara kita belum menunjukkan kasih itu kepadanya hanya karena menunda-nunda waktu. Barulah penyesalan itu datang, dan berkata: "Kenapa aku tidak melakukannya dari kemarin-kemarin...". Sekaranglah waktu terbaik untuk mengasihi!
Untuk direnungkan:
Karena Allah adalah kasih, pelajaran terpenting yang Dia ingin kita pelajari di dunia ini adalah bagaimana mengasihi. Belajar mengasihi tanpa mementingkan diri sendiri bukan pekerjaan yang mudah. Hal ini bertentangan dengan sifat kita yang mementingkan diri sendiri.
Tentu saja Allah ingin agar kita mengasihi setiap orang, tetapi Dia 'terutama' ingin agar kita belajar mengasihi sesama anggota keluargaNya. Mengapa Allah mendesak kita untuk memberikan kasih dan perhatian yang khusus kepada sesama orang percaya? Mengapa mereka mendapatkan prioritas dalam kasih? Karena Allah ingin keluarga-Nya dikenal melalui kasihnya lebih dari melalui hal lainnya.
Allah ingin agar kita berada dalam persekutuan yang akrab dan terus-menerus dengan sesama orang percaya sehingga kita bisa mengembangkan keterampilan mengasihi. Kasih tidak bisa dipelajari dalam keterasingan. Kita harus berada di sekitar orang-orang, yaitu orang-orang yang menjengkelkan, yang tidak sempurna, dan yang mengecewakan. Melalui persekutuan, kita belajar tiga kebenaran penting.
(1) Kehidupan paling baik dijalani dengan kasih
Kasih bukanlah bagian yang baik dari kehidupan kita; kasih merupakan bagian terpenting. Dalam kehidupan kita, hubungan harus mendapatkan prioritas diatas segalanya. Mengapa?
Pertama, kehidupan tanpa kasih benar-benar tidak berharga. Hubungan, bukan prestasi atau penguasaan atas benda-benda, merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan. Jadi mengapa kita membiarkan hubungan kita mendapatkan hanya sedikit perhatian? Apa yang terpenting bagi Allah digantikan oleh apa yang mendesak. Kesibukan adalah musuh besar bagi hubungan. Kita dikuasai oleh pekerjaan mencari nafkah, melakukan tugas-tugas kita, membayar rekening-rekening, dan menyelesaikan berbagai hal seolah-olah tugas-tugas ini merupakan tujuan hidup. Bukan. Tujuan hidup adalah belajar mengasihi, yaitu mengasihi Allah dan sesama. Kehidupan tanpa kasih sama dengan nihil.
Kedua, Kasih akan berlangsung selamanya. Kasih itu kekal. Kasih meninggalkan suatu warisan. Bagaimana kita memperlakukan orang lain, bukan kekayaan atau keberhasilan kita, merupakan pengaruh yang paling bertahan lama, yang bisa kita tinggalkan di dunia. Ketika kehidupan di dunia akan berakhir, manusia tidak minta dikelilingi oleh benda-benda. Yang kita ingin ada di sekeliling kita adalah orang-orang, yakni orang-orang yang kita kasihi dan yang dengan mereka kita memiliki hubungan.
Ketiga, Kita akan dievaluasi berdasarkan kasih kita. Allah mengukur kedewasaan rohani adalah dengan kualitas hubungan kita. Allah akan meninjau bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
(2) Pernyataan kasih terbaik adalah waktu
Pentingnya sesuatu bisa diukur dari berapa banyak waktu yang dengan rela kita investasikan didalamnya. Semakin banyak waktu yang kita berikan untuk sesuatu, semakin besar kita menunjukkan pentingnya dan nilainya bagi kita. Kita bisa membuat lebih banyak uang, tetapi kita tidak bisa membuat lebih banyak waktu. Ketika kita memberi seseorang waktu kita (meluangkan waktu buatnya), kita sedang memberi mereka satu bagian dari kehidupan kita yang tidak akan pernah kita dapatkan kembali.
Inti dari kasih bukanlah apa yang kita pikirkan atau kerjakan atau berikan kepada orang lain, melainkan seberapa banyak kita memberikan diri kita sendiri. Pemberian karena kasih yang paling diinginkan bukanlah permata atau bunga mawar atau coklat, melainkan Perhatian yang terfokus. Anda bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi Anda tidak mungkin mengasihi tanpa memberi (You can give without love, but you can not love without give). Kasih berarti memberi, yaitu menyerahkan kesenangan, kenyamanan, sasaran, rasa aman, uang, tenaga, atau waktu saya demi kebaikan orang lain.
(3) Waktu terbaik untuk mengasihi adalah sekarang
Mengapa harus sekarang? Karena kita tidak akan pernah tahu berapa lama kita memiliki kesempatan itu. Keadaan berubah. Orang-orang meninggal. Anak-anak bertumbuh. Kita tidak memiliki jaminan tentang hari esok. Jika kita ingin mengekspresikan kasih, kita sebaiknya melakukannya sekarang. Seringkali, nasi sudah menjadi bubur, artinya penyesalan selalu datang terlambat. Kita baru sadar dan menyesal karena tidak mengungkapkan kasih kita kepada seseorang sebelumnya. Misalnya orang yang akan kita kasihi itu meninggal, sementara kita belum menunjukkan kasih itu kepadanya hanya karena menunda-nunda waktu. Barulah penyesalan itu datang, dan berkata: "Kenapa aku tidak melakukannya dari kemarin-kemarin...". Sekaranglah waktu terbaik untuk mengasihi!
Untuk direnungkan:
- Apakah kita sudah mengerti besarnya kasih Kristus dalam kehidupan kita? Apakah itu telah menjadi salah satu dasar bagi kita untuk tetap setia kepadaNya? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengasihi Allah dalam hidup kita?
- Apakah kita sudah mengasihi sesama kita (sesama anggota keluarga Allah khususnya)? Sudahkah kasih merupakan warisan kita bagi generasi berikutnya?
- Sudahkah kita memberikan waktu kita kepada mereka yang membutuhkan?
- Bagaimana Anda menjelaskan tentang waktu-waktu dimana proyek atau hal-hal lain lebih penting bagi Anda ketimbang orang lain? Dengan siapakah Anda perlu mulai menggunakan lebih banyak waktu bersama? Apa yang Anda perlu buang dari jadwal Anda untuk memungkinkan hal tersebut? Pengorbanan apa yang perlu Anda lakukan?
- Apakah kita sudah siap dievaluasi oleh Tuhan atas setiap kasih yang telah kita lakukan selama hidup didunia?
Ayat untuk diingat: "Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!'" Galatia 5:14