"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang." (Matius 5:13)
"Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:21)
Zaman dahulu, garam sangatlah penting. Zat mineral ini memiliki kegunaan medis sebagai antiseptik alami untuk membersihkan luka dan membunuh bakteri. Garam juga digunakan untuk mengawetkan makanan, terutama saat musim panas ketika makanan lebih cepat rusak, dan juga sebagai penyedap masakan sama seperti hari ini.
Yesus di dalam Alkitab memperingatkan murid-murid-Nya agar tidak kehilangan rasa asin mereka. Garam yang digunakan pada zaman itu kemungkinan diambil dari tepi Laut Mati. Campuran tidak murni dari endapan garam membentuk zat serupa kapur, mirip garam tapi tidak memiliki sifat-sifat garam sama sekali. Seiring waktu, garam sejati akan larut, menyisakan ampas tidak berguna yang akhirnya hanya cocok untuk dibuang.Tentu mengecewakan, sesuatu yang kelihatannya seperti garam tapi ternyata bukan, tidak punya kegunaan yang dicari dari garam. Inilah sebabnya Yesus ingin kita menjaga ciri khas rasa asin ini supaya kita dapat terus memberi dampak yang lebih besar kepada dunia. Ini berarti, memiliki hubungan yang benar dengan Dia dan mengikuti perintah-Nya.
Gereja dipanggil untuk memberi rasa dalam semua aspek kehidupan dan budaya, melawan dampak dosa dan kejahatan, menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi kesejahteraan umat manusia.